31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

Tekankan Kualitas dan Pendidikan Moral

Raih pendidikan setinggi mungkin. Itulah yang diajarkan oleh orangtua Arif Royyan. Ajaran itu pula yang kemudian bisa membawanya meraih gelar doktor termuda di UIN Walisongo Semarang di tahun 2015.

Dalam hal menempuh pendidikan, Royyan memiliki satu kalimat sakti. Yaitu Man Jadda Wajada, Man Zaro’a Hashoda yang dalam bahasa Indonesia berarti siapa bersungguh sungguh pasti akan berhasil, siapa menanam akan menuai. Kalimat inilah yang menjadi motivasinya untuk dapat bersungguh-sungguh mengejar pendidikan setinggi mungkin.

”Di kamar selalu ditulis ini. Selalu ada target dalam hidup saya. Sehingga Alhamdulillah saya bisa meraih gelar doktor pada umur 30 tahun,” ujar pria yang selalu berprestasi dalam dunia pendidikan dam selalu mendapatkan beasiswa ini kepada Jawa Pos Radar Semarang. Kalimat ini, lanjutnya, menjadi senjatanya  untuk melawan rasa letih dan malas.

Sedikit ia ceritakan mengenai pengalamannya saat menimba ilmu di Universitas Al Azhar, Mesir saat S1. Ia mendapat pengalaman bagaimana sistem pendidikan disana sangat mengedepankan kualitas dan pendidikan moral. Hal ini pula yang ingin ia terapkan di Indonesia. Ia menginginkan agar kualitas menjadi lebih utama dibandingkan dengan kuantitas.

”Jangan berpikir hasil tapi berpikirlah dalam prosesnya. Saya melihat selama ini banyak anak-anak yang disoriented. Bagaimana dia mendapatkan nilai A tanpa memikirkan bagaimana mendapat nilai A yang benar,” ujar Dosen Falak dan Bahasa Arab UIN Walisongo Semarang ini.

Untuk dapat mencapai pendidikan yang seperti itu, ia berupaya menciptakan atmosfer pendidikan yang baik. Sebagai dosen ia selalu berupaya agar bisa dekat dengan para mahasiswanya. Dekat dengan tanpa melangkahi batasan-batasan yang dapat mengganggu objektivitas sebagai seorang dosen.

”Kedekatan dengan anak didik perlu supaya ketika belajar tidak ada ketegangan. Belajar dalam suasana tegang, anak didik tidak akan dapat menyerap dengan maksimal. Dengan kedekatan kita dapat memberikan pemahaman kepada mereka untuk menghargai proses, tidak hanya mengejar hasil,” ujarnya.

Dalam mengajar, ia selalu menggabungkan antara materi yang ia ajarkan sembari berimprovisasi dengan menambahkan realita dalam masyarakat. ”Tujuannya, agar anak didik lebih tahu relasi ilmu yang dipelajari dengan kegunaannya,” katanya

Ke depan, ia memiliki cita-cita untuk bisa lebih bermanfaat di masyarakat dengan ilmu yang ia miliki. Selama ini, ia merasa belum maksimal untuk mengabdi di masyarakat. Cita-cita ini, yang membuat dirinya aktif di bidang lain selain sebagai dosen. Saat ini dirinya aktif sebagai Lajnah Falakiyyah di Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah. Sebagai Lajnah Falakiyyah, ia mengemban tugas dalam penentuan awal bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, maupun Idul Adha. Juga dalam hal meluruskan arah Kiblat.

”Lajnah Falakiyah juga mengontrol arah kiblat masjid dan musala. Termasuk di pom-pom bensin dan rumah makan yang ada musalanya. Ternyata banyak yang arah kiblatnya kurang tepat menghadap ke Kabah,” ujarnya. (sigit andrianto/ric)

Latest news

Related news