31 C
Semarang
Kamis, 13 Mei 2021

Unggah-Ungguh Basa sebagai Guru Toleransi

Oleh: Rudi Wahyu Ginanjar

SAAT ini ketika mendengar tentang Unggah-ungguh Basa kita sebagai guru, pemerhati budaya, dan pengembang kebudayaan sering merasa miris. Seperti dalam pembahasan Kongres Bahasa Jawa belum lama ini di Jogjakarta. Para peserta kongres juga pemerhati bahasa Jawa sangat ketakukan dengan kurangnya penggunaan bahasa ibu mereka. Kemudian dengan ketakutan itu muncul gagasan untuk mewajibkan basa Krama Alus digunakan pada hari tertentu. Itu merupakan upaya untuk menghilangkan ketakutan akan hilangnya unggah-ungguh basa. Karena kita tahu unggah-ungguh basa merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh semua orang Jawa sebagai pengguna bahasa.

Kemirisan ini ditambah dengan banyak sekali anak-anak, pemuda, bahkan sampai orang tua yang lahir serta tinggal di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, DI Jogjakarta, dan Jawa Timur sudah jarang sekali menggunakan atau menerapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka malah asyik dan senang menggunakan bahasa mancanegara bahkan bahasa alay. Sedangkan, bahasa ibu juga lebih penting sebagai bahasa pergaulan dalam lingkungan serta sebagai bahasa sosial.

Ketika tidak bisa menjaga hal itu, apa yang akan terjadi? Mungkin akan terjadi kehilangan yang sangat besar serta kesedihan yang amat sangat. Padahal banyak sekali nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam unggah-ungguh basa.

Secara nalar atau logika, unggah-ungguh basa mengajarkan kita tentang rasa menghormati antarsesama manusia. Toleransi akan timbul dengan rasa saling menghormati. Seperti yang telah diajarkan Alquran kepada kita semua tentang Hablumminallah dan Hamblumminannas atau menjaga hubungan dengan Allah SWT dan menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Menjaga hubungan dengan sesama manusia ini juga diajarkan di balik unggah-ungguh basa. Bahwa ketika kita berbicara dengan sesama kita harus menggunakan ngoko lugu, ketika kita berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita misalnya kakak kita menggunakan ngoko alus, sedangkan dengan orang tua, guru, atau yang dituakan oleh kita menggunakan krama alus.

Rasa Hormat

Aturan-aturan dalam tingkat tutur atau unggah-ungguh basa itu semua dapat menciptakan rasa hormat dengan orang lain. Rasa hormat tersebut bukan lantas menjadi rasa takut, berani, bahkan sombong. Namun, menjadi orang lebih mengahargai orang tersebut melalui tutur kata yang keluar. Dengan tutur kata yang baik, maka setiap orang yang akan bertutur kata dengan kita, akan dengan baik pula membalasnya.

Sistem tersebut secara tidak langsung akan berkesinambungan terus-menerus dan membuat orang akan meningkat rasa toleransinya dan muncul rasa hormat dengan orang lain. Seperti itu akan terus menjaga rasa rukun dengan orang lain. Sedikit contoh ketika orang marah-marah menggunakan bahasa yang kotor dan menggunakan emosi tinggi, namun dihadapi dengan menggunakan unggah-ungguh basa, maka orang yang sedang marah akan menjadi sungkan kemudian menjadi tidak marah kembali. Itu semualah ajaran yang sudah diwariskan dari leluhur tentang unggah-ungguh basa yang bisa menjaga toleransi dengan sesama.

Supaya tetap terjaga rasa toleransi, perlu perhatian khusus tentang pengajaran unggah-ungguh basa. Perlulah secara senang hati mulai mengajarkan dari ranah keluarga di rumah, walaupun pada nantinya masih belum seperti tata aturan unggah-ungguh basa yang tepat.

Walaupun seperti itu anak-anak yang sekarang ditakutkan karena sudah mulai menyukai bahasa mancanegara dan bahasa alay serta meninggalkan bahasa ibu mereka tidak akan terjadi. Karena secara tidak langsung pembelajaran yang diajarkan oleh orang tua di rumah terasa lebih meresap ke dalam masing-masing anak tersebut.

Dengan kata lain, kekhawatiran orang banyak akan kurang dipakainya bahkan musnahnya bahasa ibu serta unggah-ungguh basa akan terbantahkan. Sekolah sebagai rumah kedua bagi anak hanya akan melajutkan sebagai pengajaran unggah-ungguh basa selanjutnya.

Ketika kita semua merasa memiliki rasa tanggung jawab dan rasa keinginan untuk selalu menjaga toleransi, maka tak sepantasnya kita merasa takut akan kehilangan unggah-ungguh basa sebagai nilai penting dalam pengajaran toleransi. Karena kita akan selalu mengajarkan di manapun dan kapanpun tentang unggah-ungguh basa, serta memberikan pengertian tentang makna tersembunyi di dalam unggah-ungguh basa. (*)

Latest news

Related news