31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Sempat Flu Berat karena Cuaca Minus 3 Derajat Celcius

Novia Mungawanah tercatat sebagai mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) yang mendapatan kesempatan mengikuti Indonesia Japan Joint Scientific Symposium (IJJSS) di CHIBA University Jepang. Ia mengaku kagum dan takjub dengan model pendidikan dan gaya hidup di negeri sakura tersebut. Seperti apa?

MIFTAHUL A’LA

PRESTASI yang ditorehkan Novia Mungawanah patut diapresiasi. Sebab, ia bisa mengikuti Indonesia Japan Joint Scientific Symposium (IJJSS) di CHIBA University Jepang pada November lalu. Tidak semua mahasiswa mendapatkan kesempatan emas tersebut. Ia pun mengaku bangga dan senang bisa melihat atmosfer dunia pendidikan di CHIBA University Jepang. Sebab, IJJSS diikuti oleh para peneliti, mereka saling berdiskusi menyumbang gagasan, berbagi pengalaman riset, serta membangun jejaring kerja sama satu sama lain.

“Bangga rasanya bisa mengikuti kegiatan tersebut. Ini pengalaman pertama,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Mahasiswi Pascasarjana Hukum Undip  ini mendapatkan kesempatan emas tersebut bukan dengan mudah. Ia  harus mempresentasikan hasil penelitan yang dilakukan bersama dengan sejumlah dosen Undip. Penelitan yang dilakukan, yakni terkait tentang pekerja wanita di bidang perikanan yang dilakukan di Kabupaten Pati.  “Dari penelitian itu ternyata peran perempuan di sektor perikanan sangat besar. Dan itu yang saya presentasikan di CHIBA University Jepang,” ujarnya.

Selama di Jepang, ia banyak mendapatkan pengalaman. Bahkan, ia bisa bertemu dengan mahasiswa dari sejumlah negara. Seperti, Amerika Serikat, Korea Utara, Mongolia, Afrika, Jerman dan sejumlah mahasiwa dari negara lain. Meski tidak lama, tetapi ia mengaku sangat terkesan dengan sistem dan model pendidikan yang ada di Jepang.

“Di sana kedisiplinan nomor satu, selain kampusnya lebih bagus karena support pemerintah lebih maksimal,” katanya.

Dara kelahiran 11 November 1992 ini awalnya mengaku kaget ketika kali pertama menginjakkan kaki di Jepang. Perbedaan suhu yang bahkan sampai minus 3 derajat celcius membuatnya sempat mengalami kesulitan ketika hendak beradaptasi.  Padahal di Indonesia sendiri rata-rata suhunya 30 derajat celcius. Ia harus menggunakan baju berlapis agar dinginnya cuaca  bisa sedikit dihilangkan.

“Saya sempat flu dan kesulitan untuk beradaptasi, sampai kulit mengelupas.  Alhamdulillah sakitnya bisa cepat sembuh dan tidak terlalu lama,” ujarnya.

Perempuan yang hobi traveling ini mengaku banyak mendapatkan pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan di Jepang. Tentunya ia semakin bisa mengenal lebih banyak dan berdiskusi dengan mahasiswa dari berbagai negara di dunia. Yang berkesan adalah melihat kedisiplinan mahasiwa di Jepang baik dalam pendidikan maupun gaya hidupnya.

“Di Jepang dalam hal apapun orangnya semua disiplin dan pekerja keras. Contoh sederhana ketika makan di tempat umum, piring dan sisa makanan harus dibersihkan sendiri dari mejanya,” katanya.

Tidak hanya itu, saat berada di Jepang ia mengaku senang karena bisa menikmati musim gugur autumn. Kesempatan langka yang tidak terjadi di Indonesia itupun tidak disia-siakan begitu saja.

Usai mengikuti Indonesia IJJSS di CHIBA University, ia menyempatkan berkeliling Jepang dengan menggunakan transportasi umum. “Transportasinya juga sangat bagus dan nyaman. Jadi, orang lebih senang menggunakannya. Lebih cepat dan selalu tepat waktu,” ujarnya. (*/aro)

Latest news

Related news