DJ KAMPUNG: Penampilan DJ Filastine di Balai Pertemuan Kampung Malang, Purwodinatan. (DOKUMEN PEKAKOTA)
DJ KAMPUNG: Penampilan DJ Filastine di Balai Pertemuan Kampung Malang, Purwodinatan. (DOKUMEN PEKAKOTA)

Disc jockey atau DJ biasanya tampil di klub atau diskotik. Tapi kali ini, dua musisi asal Malang dan Barcelona Spanyol membawakan musik urban tersebut di tengah perkampungan padat. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

BALAI Pertemuan Kampung Malang, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Minggu malam itu tampak beda. Seperangkat sound system terpasang di kanan dan kiri balai pertemuan. Sementara sebuah meja kayu menjadi tempat menaruh perlengkapan musik yang kerap digunakan oleh para DJ. Masing-masing kaki meja kayu ini diganjel oleh paving block, hingga tingginya pas.

Ya, malam itu, Filastine yang terdiri atas dua musisi, yakni Nova asal Malang, Jatim, dan Grey asal Barcelona tampil nge-DJ di balai pertemuan tersebut. Keduanya membawakan 14 lagu yang mampu membuat warga yang semula duduk di kursi, langsung bangkit dan ikut berjoget mengikuti entakan musik rancak.

Beberapa lagu yang dibawakan, di antaranya The Miner, Btalla, Hypnotico, To The Mother East, Dance of The Garbage Men, Mata-mata, Glass Seagulls, Skrimish, Sixty Cycle Drum, Shanty Tones, Colony Collapse, Drone Silences, Lost Report, dan Murka. Keduanya tampil sekitar 80 menit.

Meski bernuansa urban, beberapa lagu juga disisipi lirik Jawa. Sehingga lebih mengena ke masyarakat yang mayoritas menggunakan bahasa Jawa.

”Kami sangat senang mendapat hiburan alternatif ini, apalagi banyak lirik jawanya. Sehingga tetap bisa dinikmati,” ujar Mulyono, panitia acara temu Kampung Mitra Pekakota tersebut.

Perhelatan musik ini sendiri merupakan bagian dari acara kampung inisiasi Pekakota dan Kampung Malang dua hari sebelummnya pada 4-5 November lalu, dengan puncaknya pesta rakyat.

Pertemuan tersebut turut mengundang perwakilan dari tujuh kampung lain di Semarang, yakni Kampung Tapak, Nongkosawit, Randusari, Kemijen, Petemesan, Bustaman, dan Kampung Malang. Mereka juga membahas urgensi kampung dalam konstelasi kota di masa depan.

Oktav Bagus, perwakilan dari Pekakota menambahkan, pemilihan musisi Falestine bukannya tanpa alasan. ”Lirik-lirik lagu mereka berpihak pada orang lemah dan sarat kritik sosial serta pesan lingkungan, seperti Colony Collapse becerita tentang pemanasan global,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia berharap dengan adanya kegiatan ini bisa membuat warga keluar rumah dan mendapat sajian berbeda. ”Musik merupakan salah satu pemantik saja, agar warga makin guyub, mau berinteraksi dan kemudian meningkatkan solidaritas sosial,” tambahnya.

Pekakota sendiri sebelumnya juga telah mengadakan event di kampung lain, dan melibatkan musisi kenamaan. Sebelumnya mereka mengadakan di kampung-kampung tua Semarang dengan menggandeng banyak pihak. Tidak hanya artis, tapi juga akademisi dari Unissula, Undip dan lainnya.

”Kami berharap kegiatan ini bisa membuat masyarakat lebih paham tentang dirinya dan mau bersama-sama membenahi kondisi kampung kelak,” harapnya. (*/aro/ce1)