Taksi Lain ’Kucing-kucingan’

263

SEMARANG – Dugaan praktik monopoli taksi di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang sudah berlangsung lama. Namun keberadaan satu-satunya operator taksi yang menguasai bandara ini sulit ditembus oleh pengusaha transportasi lain. Taksi tersebut dikelola oleh Koperasi Primkopad S-16 di bawah naungan TNI AD.

Selain operator taksi warna putih bertuliskan ’Bandara International Ahmad Yani’ berlogo pesawat tersebut, ada juga puluhan angkutan berpelat hitam yang menguasai Bandara Ahmad Yani. Angkutan tanpa izin ini disebut-sebut milik sejumlah aparat berpangkat perwira.

”Jangankan pengusaha transportasi, PT Angkasa Pura aja nggak berani cawe-cawe. Semua operator taksi selain ’taksi putih’ dan angkutan gelap dilarang masuk areal bandara, kecuali hanya mengantar penumpang dari luar,” kata salah satu sopir taksi Puri Kencana berinisial LW, 37, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (3/10).

Dikatakannya, operator taksi lain hanya bisa ’kucing-kucingan’ dengan menunggu di luar gapura bandara atau di dekat rel kereta api.

”Kami hanya menunggu kalau ada sisa penumpang pesawat yang sengaja mencari taksi di luar bandara. Sebab, sebagian penumpang sudah tahu kalau tarif taksi di dalam bandara maupun mobil gelap itu mahal,” ujarnya.

Biasanya, lanjut LW, para penumpang seperti itu memilih taksi yang menyediakan fasilitas argometer. Sebab, tarifnya bisa lebih terukur.

”Kalau taksi putih maupun mobil gelap itu tarifnya mahal. Bandara-Simpang Lima aja bisa mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, karena sistemnya sewa,” katanya.