Industri Resin Bersaing Ketat

208
PUTAR OTAK: Jajaran komisaris dan direksi PT Intanwijaya Internaional Tbk, terus memacu kualitas dan kapasitas produksi untuk menghadapi persaingan dalam industry resin dan formalin di Pulau Jawa. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PUTAR OTAK: Jajaran komisaris dan direksi PT Intanwijaya Internaional Tbk, terus memacu kualitas dan kapasitas produksi untuk menghadapi persaingan dalam industry resin dan formalin di Pulau Jawa. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PUTAR OTAK: Jajaran komisaris dan direksi PT Intanwijaya Internaional Tbk, terus memacu kualitas dan kapasitas produksi untuk menghadapi persaingan dalam industry resin dan formalin di Pulau Jawa. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PUTAR OTAK: Jajaran komisaris dan direksi PT Intanwijaya Internaional Tbk, terus memacu kualitas dan kapasitas produksi untuk menghadapi persaingan dalam industry resin dan formalin di Pulau Jawa. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Industri urea formaldehyde resin atau lem kayu cair serta formalin cukup potensial di Indonesia. Resin banyak dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan pengolahan kayu seperti plywood atau particle board yang berkembang pesat di tanah air. Namun tidak banyak perusahaan atau pabrik yang memproduksi resin. Di pulau Jawa, hanya ada 5 pabrik yakni 2 di Jawa Timur, 1 di Jawa Barat serta 2 lagi di Jawa Tengah, tepatnya di Temanggung dan Semarang.

Karena itu lima perusahaan tersebut sekarang bersaing ketat dalam hal kualitas resin. Salah satunya adalah PT Intanwijaya International Tbk yang berproduksi sejak 2015 lalu di pabriknya di kawasan industri Terboyo, Semarang. Pabrik yang merupakan ekspansi dari pabrik di Banjarmasin ini terus berupaya menggenjot kualitas serta kapasitas produksinya.

“Untuk resin, hasil produksi kita berbeda dengan yang lain. Kita menggunakan teknologi dari Swedia yang menghasilkan resin yang lebih kental serta rendah emisi sehingga ramah lingkungan. Di PT Intanwijaya, konsumen juga bisa memesan resin sesuai kebutuhan, misalnya warnanya minta transparan, warna coklat kayu, atau kemerahan, kita bisa memproduksinya,” ujar Direktur Utama PT Intanwijaya International Tbk, Tazran Tarmizi, dalam acara public expose setelah RUPS siang kemarin di Hotel Ciputra, Semarang.

Untuk produksi, sejak berproduksi 2015 lalu, perusahaan tersebut terus berupaya mengejar target produksi, yakni 2.000 ton per bulan. Tahun depan ditargetkan penjualan bisa 3.000 ton tiap bulannya. “Untuk saat ini masih sekitar 1.300 ton per bulan, tapi kita terus kejar rata-rata 2.000 ton per bulan hingga akhir tahun ini. Kebutuhan resin sendiri di Pulau Jawa mencapai sekitar 10 ribu ton per bulan, target kita memang menguasai pasar hingga 20 persen di Pulau Jawa,” jelas Tazran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here