Bahasa Inggris dan Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Bahasa Inggris dan Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Bahasa Inggris dan Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Bahasa Inggris dan Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Oleh:
Hartono, SS ., MPd. *)

SEJAK Desember 2015, secara resmi Indonesia bersama negara-negara Asean lainnya telah resmi memberlakukan ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). MEA memberi banyak peluang dan sekaligus juga tantangan bagi Bangsa Indonesia sebagai negara di ASEAN dengan jumlah penduduk terbesar.

Indonesia bisa menjadi Negara konsumen terbesar di wilayah MEA di satu sisi, pada sisi lain, jika bisa menoptimalkan peluang yang ada, maka bangsa Indonsia akan menjadi pelaku usaha, penyedia tenaga kerja terbesar di seluruh kawasan ASEAN.

Menjadi konsumen terbesar tentu bukanlah kebanggan bagi kita, maka dari kita harus memilih dan menetapkan dengan segala upaya untuk menjadi pelaku ekonomi dan penyedia tenaga kerja terbesar. Artinya, bangsa Indonesia harus bisa masuk ke Negara-negara di lingkup MEA dan menjadi pelaku ekonomi di sektor formal yang berdaya saing. Untuk mewujudkan itu maka kemampuan berbahasa asing khususnya Bahasa Inggris sangat diperlukan.

Meski beberapa Negara di lingkup MEA tidak mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa nasionalnya, perbedaan bahasa antara tenaga kerja Indonesia dan masyarakt negara tujuan lebih mudah teratasi dengan penggunaan Bahasa Inggris. Belajar Bahasa Inggris, dengan demikian, masih sangat dan akan terus relevan.

Atas dasar itulah Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) yang telah berdiri sejak 53 tahun lalu dengan ribuan alumni yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri, dengan dengan fasilitas, sarana-prasarara belajar sangat memadai, membuka Fakultas Bahasa dengan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (S1) dan Sastra Inggris (S1).

Prodi Pendidikan Bahasa Inggris bertujuan mencetak sarjana dan ahli Bahasa Inggris yang kompeten yang nantinya bekerja baik sebagai pendidik (guru) maupun tenaga terampil yang masuk pada industri komunikasi, jurnalistik, pariwisata, maupun bisnis.
Sedangkan prodi Sastra Inggris akan mencetak Sarjana Sastra yang nanti berkarier sebagai dosen di perguruan tinggi, PNS, maupun industri penerjemahan, jurnalistik, dan pariwisata.

Pengalaman Internasional
Baik Prodi Pendidikan Bahasa Inggris maupun Sastra Inggris memberi kesempatan seluas-luasnya untuk membangun dan mengembangkan pengalaman internasionalnya. Banyak mahasiswa telah mengikuti berbagai kegiatan internasional yang dilaksanakan di luar negeri di wilayah Asia dan Eropa.

Sebagai contoh Ifan Rizka Auladi menjadi presenter di forum ilmiah di Inggris dan Jerman. Herlina Dedy Listiani ke Turki, Pakistan dan Singapura, Aat Eska Fahmadi ke Thailand, Andra Fachrian menjadi presenter dan mengikuti perkuliahan di Al Fatih University. Malikha dan Erfiyanti ke Malaysia, Faris Milati dan Usman Ilyas melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Thailand, begitu juga Satiul K, Faisal, dan Sari Kusuma R yang tinggal di negeri gajah putih selama beberapa minggu.

Keseriusan Fakultas Bahasa dalam membangun dan mengembangkan pengalaman internasional para mahasiswanya dibuktikan lagi pada Januari beberapa waktu lalu dengan mengirimkan 12 mahasiswanya ke International Islamic Univesity of Malaysia (IIUM) untuk berinteraksi dan menyajikan pemikirannya di forum internasional di sana.

Fakultas Bahasa pun bersama dengan universitas melakukan berbagai kegiatan kerjasama dengan univesitas luar negeri seperti IIUM Malaysia, Price Songla Thailand, Rotherdam University Belanda dll.

Di usia yang ke 10 tahun, Fakultas yang menempati gedung sepuluh lantai yang berdiri megah di komplek kampus Unissula, dan sarana prasarana yang ada, siap mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk menjadi bagian penting dari masyarakat dunia.