Ganjar Pranowo (Radar Semarang files)
Ganjar Pranowo (Radar Semarang files)
Ganjar Pranowo (Radar Semarang files)
Ganjar Pranowo (Radar Semarang files)

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Parnowo hingga kemarin ngotot tidak mau menandatangani pencairan dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Tengah sebesar Rp.70,8 miliar yang bersumber dari APBD Murni 2016. Padahal dana tersebut ditunggu cabang-cabang olahraga untuk kepentingan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 yang tinggal tiga bulan lagi berlangsung di Jawa Barat.

Kemarin, Ganjar mengundang pengurus inti KONI Jawa Tengah serta pengprov-pengprov cabor dalam rapat koordinasi di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Dalam pertemuan dengan pengurus KONI Jawa Tengah, Ganjar terlihat emosional.

Pihak KONI Jateng dianggap tidak transparan dalam penyusunan anggaran. Ganjar langsung marah ketika mendengar pengakuan banyak pengurus cabor yang tidak tahu mengenai jumlah anggaran yang akan diterima. Mereka mengaku tidak pernah dilibatkan dalam rencana penyusunan anggaran.

Ia juga mempertanyakan pengalokasian dana cabor yang dianggap tidak proporsional. Ganjar terang-terangan menyebut beberapa cabor yang dianakemaskan sehingga mendapatkan alokasi anggaran yang besar, seperti anggar, balap sepeda, judo, karate, atau pencak silat. Ganjar seperti menegaskan, bahwa cabor-cabor tersebut mendapatkan anggaran besar karena dipimpin oleh para anggota DPRD Jateng serta pengurus teras KONI Jateng. Seperti anggar yang dipimpin anggota DPRD Jateng Kukuh Birowo, balap sepeda diketuai anggota DPRD Jateng Dede Sudiro, judo juga diketuai anggota DPRD Jateng Yoyok Sukawi, kemudian pencak silat dipimpin Wakil Ketua KONI Jateng Yanto Sudiro, lalu karate di mana Ketua KONI Jateng Hartono menjabat Wakil Ketua Umum.

Ganjar mempertanyakan, kenapa cabor-cabor tersebut yang dinilai kurang berprestasi tersebut memperoleh dana besar, sedangkan cabor pendulang emas ternyata tidak dapat prioritas. “Kenapa anggar paling besar? Ini ada apa? Apakah ini jadi target? Tidak fair dong. Sementara atletik lain pendulang emas kok dingin-dingin saja,” kata Ganjar, seusai acara tersebut. Menurut informasi, anggar mengajukan anggaran mencapai Rp 4 miliar.

Dia mengatakan, apa yang dilakukan KONI Jateng tidak mendukung upaya Pemprov Jateng menuju clean goverment dan good governance. “Baru kali ini seumur-umur saya memimpin rapat sampai mengungkap secara detil anggaran hingga pola penganggaran,” semprotnya.

Dia juga menilai KONI Jateng tidak memiliki target yang jelas menghadapi PON 2016 di Jawa Barat mendatang. “Harusnya ada skala prioritas. Ya, kalah terus kalau begini. Mestinya politik olahraganya jelas, ini pendulang emasnya siapa, kita siapkan lebih strategis. Atlet juga mestinya porsinya lebih banyak,” katanya.

Soal alasan dirinya tidak segera meneken pencairan anggaran untuk KONI, karena perbaikan anggaran yang ia instruksikan ke pengurus KONI Jateng tidak segera dijalankan. “Dengan ini ketahuan selama ini penyusunan anggaran KONI Jateng ora cetho. Tolong dibenahi. Kalau hari ini bisa selesai, langsung saya teken. Besok cair,” pungkasnya. (amh/smu)