Secara tidak sadar, sekolah tersebut telah melahirkan bibit-bibit koruptor di Indonesia. Sekolah itu mengajarkan untuk mencari jalan pintas yang mudah dan membuahkan hasil yang baik tanpa perlu usaha. Hal ini jika dibiarkan terus-menerus akan berakibat pada mentalitas dan rusaknya karakter generasi muda. Hingga mereka dewasa kelak pelajaran inilah yang akan terus terbawa dan dilakukan oleh para siswa. Akibatnya, akan banyak bertumbuhan koruptor baru di Indonesia karena pola pikir yang telah ditanamkan sejak SMP.

Yang perlu diperhatikan sebenarnya bukanlah hasil yang didapatkan oleh sekolah (hasil dan peringkat unas), tetapi lebih kepada proses dan karakter para siswa yang telah dibentuk oleh sekolah tersebut. Sejak SMP, para siswa harus mulai dibentuk menjadi pribadi yang berkarakter antikorupsi. Hal ini akan membantu pemberantasan korupsi di Indonesia.

Perlu disosialisasikan pula untuk para siswa SMP bahwa korupsi tidak hanya melakukan pencurian uang negara saja seperti yang mereka ketahui. Melainkan ada beberapa tidakan-tindakan sederhana yang tergolong dalam korupsi dan sering dilakukan oleh para siswa, seperti menyontek, terlambat masuk sekolah, dan mencari kunci jawaban. Untuk itu, perlu adanya pembentukan karakter dan pengertian lebih dalam, tentang apa itu korupsi bagi para siswa yang dapat dimulai dengan adanya jam pelajaran khusus mengenai antikorupsi, yakni ”PAK atau Pendidikan Anti Korupsi.”

Salah satu upaya yang gencar dilakukan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk membantu menyosialisasikan PAK adalah dengan membuat sembilan nilai sederhana yang bisa ditanamkan di pribadi para siswa mulai SMP. Yakni, sembilan nilai antikorupsi, antara lain kejujuran, kepedulian, kemandirian, keadilan, tanggung jawab, kerja sama, sederhana, keberanian dan kedisiplinan.

Sudah banyak SMP yang mulai menerapkan hal-hal dasar ini dengan berbagai macam dinamika, dan permainan sederhana. Tujuannya, agar para siswa dapat mendalami nilai-nilai antikorupsi dengan cara yang menyenangkan. Sehingga akan selalu diingatnya sampai dewasa kelak. Jadi, nilai unas bukanlah segalanya. Bebaskan generasi muda dari korupsi! (*)