foto-opini

Oleh: Nikolaus Aryawan Ravato Wijaya

UJIAN Nasional (Unas) adalah salah satu sarana yang dibuat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk membuat standar pendidikan di Indonesia. Sebelum mengikuti unas, para siswa dilatih dengan berbagai macam cara oleh pihak sekolah, mulai tambahan pelajaran, latihan soal, hingga try out berulang kali. Hal ini tentunya memiliki tujuan, yakni semua siswa sekolah tersebut bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.

Di sisi lain, beberapa sekolah beranggapan bahwa unas adalah ajang perlombaan prestasi akademik dengan sekolah lainnya, hal ini tentunya memacu setiap sekolah untuk berkompetisi menjadi yang terbaik. Tak jarang beberapa sekolah ingin mempertahankan status prestasi yang telah mereka dapatkan dari tahun lalu.

Mirisnya, karena motivasi ingin mempertahankan status prestasi tersebut, banyak sekolah menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya. Hal ini dikarenakan pola pikir yang masih sederhana dan polos. Ironisnya lagi, kecurangan unas tingkat SMP umumnya bukan dilakukan oleh para siswa itu sendiri, justru pihak sekolah yang mencarikan bocoran soal dan kunci jawaban untuk peserta didiknya seperti yang dilangsir dalam http://porosmaluku.com/9 Mei 2016.

Alasannya sederhana, sekolah tersebut ingin menjadi yang terbaik atau tidak ingin kehilangan status prestasi yang telah didapatkannya. Pola berpikir untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi setiap sekolah itu baik, tetapi juga harus dilaksanakan dengan cara yang benar pula.