Kreasikan Troso Bergaya Urban

392
SASAR ANAK MUDA: Salah satu desain kain torso karya Niki Hutomo, menarik dipadu dengan gaya modern. (IST)
SASAR ANAK MUDA: Salah satu desain kain torso karya Niki Hutomo, menarik dipadu dengan gaya modern. (IST)
SASAR ANAK MUDA: Salah satu desain kain torso karya Niki Hutomo, menarik dipadu dengan gaya modern. (IST)
SASAR ANAK MUDA: Salah satu desain kain torso karya Niki Hutomo, menarik dipadu dengan gaya modern. (IST)

SEMARANG – Kain warisan nenek moyang di Indonesia cukup melimpah, contohnya batik dan tenun troso. Sayangnya kedua kain ini nampak ditinggalkan generasi muda, untuk itu perlu ada inovasi agar kain warisan budaya bisa dikenakan dan dilestarikan oleh generasi muda.

Desainer muda Niki Hutomo, mengangkat kain Troso yang dikombinasikan dengan gaya urban dengan tema Street-o-typical, gaun yang ia kenakan ini bisa digunakan untuk acara formal dan informal serta menyasar generasi muda yang ingin tampil fashionable. “Inspirasinya dari gaya busana jalanan kaum urban atau akrab disebut street wear, namun saya ingin membuatnya terlihat modis,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Desainer batik Jayakarta itu berkesempatan mengenalkan busana baru rancangannya pada perhelatan grand final Denok Kenang beberapa waktu, di Krakatau Ballroom, Hotel Horison Semarang. Total ada ada 7 koleksi yang masing-masing baju bisa terdiri dari 2-3 pieces dengan gaya yang berbeda. “Dress saya dikombinasi dengan blazer ringan atau juga atasan crop top sama celana pendek dan panjang. Selain itu, ada pula kreasi batik yang dikombinasi dengan coat,” ungkapnya.

Kain troso ia pilih karena sudah memiliki kesan urban, sehingga ia mengkombinasikan dengan bahan lain yakni kulit sintetis dan brookat agar kesan fashionable bisa terpancar dari sang pemakainya dengan warna dominan merah dan hitam . “Busana street wear yang stylist bisa lebih menunjang jika menggunakan aksesoris hand bag ataupun sling bag,” jelasnya.

Ia menjelaskan jika bahan-bahan berupa kain tradisioal memang menantang untuk dikembangkan, ia sengaja mengekspolorasi kain khasanah nusantara untuk memenuhi hasrat berbusana batik sekaligus nguri-uri budaya tradisional. “Kalau tidak dimodifikasi, tentu kesannya akan jadul. Jadi perlu ada perpaduan dan model lain agar kain tradisional bisa kembali terangkat,” tuturnya. (den/smu)