UNGARAN–Pemkab Semarang terus berupaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa melalui penggelolaan Dana Desa. Selain untuk pembangunan infrastruktur pedesaan, Dana Desa dapat dimanfaatkan untuk membentuk badan usaha milik desa (BUMDes).

Hal itu dikatakan oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Bapermasdes) Kabupaten Semarang, Yoseph Bambang Tri Hardjono, Jumat (15/4). “Tren bisnis ke depan adalah bisnis kongsi, bukan bisnis perorangan,” kata Bambang.

Karena itu, katanya, adanya Dana Desa, bisa menjadi momentum untuk membentuk BUMDes. Melalui kepala desa, Pemkab terus melakukan sosialisasi, menyuntikkan semangat kewirausahaan masyarakat desa agar menangkap potensinya di masing-masing wilayahnya.

Kabid Kelembagaan dan Usaha Ekonomi Masyarakat Bapermasdes, Moh Edy Sukarno menambahkan seiring bergulirnya program Dana Desa, saat ini sudah 48 desa di Kabupaten Semarang yang memiliki BUMDes. “Kami memang sengaja fokus di kualitas, bagaimana BUMDes yang sudah ada itu bisa benar-benar eksis dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Kalau hanya sekedar BUMDes itu mudah, tinggal buat perdes saja,” katanya.

Mayoritas BUMDes bergerak di bidang usaha simpan pinjam. Saat ini, melalui intensifikasi penyadaran kewirausahaan, banyak desa yang menggarap bidang usaha lain seperti pengelolaan sampah, air bersih hingga wisata alam. “Jika masyarakat mau jeli menangkap peluang usaha yang ada, banyak hal yang bisa digarap. Mulai dari bidang jasa keuangan, ritel, trading, persewaan hingga jasa sosial lainnya,” imbuhnya.

Salah satu desa di Kabupaten Semarang yang mulai serius menggarap potensi alamnya adalah Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat. Masyarakat setempat sudah membentuk BUMDes yang bergerak di usaha wisata alam memanfaatkan potensi air terjun Semirang. Lewat dukungan Perhutani, selaku pemilik lahan, lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) dipercaya mengelola Semirang dan menginisiasi terbentuknya BUMDes.