SEMARANG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang menahan Subkontraktor Pasar Jrakah Mieke Sulistyorini (MS), Senin (7/3). Penahanan tersebut terkait kasus dugaan korupsi pembangunan Pasar Jrakah Kota Semarang yang dibiayai dengan APBD 2013.

Kapala Kejari Kota Semarang, Rizal Pahlevi melalui Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasipidsus), Sutrisno Margi Utomo menyebutkan, tersangka Mieke Sulistyorini ditahan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Bulu Semarang selama 20 hari ke depan. ”MS kami tahan karena berperan sebagai subkontraktor dalam proyek tersebut. Diperiksa sejak pukul 09.00-16.10 dan dilakukan penahanan oleh penyidik untuk 20 hari ke depan di LP Wanita Bulu Semarang,” kata Sutrisno kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sutrisno menyebutkan, sebelum ditahan tersangka Mieke datang bersama suaminya dan penasihat hukumnya M. Jakfar Sodiq. Ia juga menyebutkan peran tersangka sebagai kontraktor pelaksana yang mengerjakan proyek tersebut dan yang terima uang pembayaran. ”Penyidikan perkara ini berkaitan dengan adanya dugaan penyimpangan dalam proses penyempurnaan pembangunan Pasar Jrakah,” ujarnya.

Terpisah, Kepala LP Wanita Kelas IIA, Bulu Semarang, Suprobowati membenarkan adanya penahanan atas nama tersangka Mieke Sulistyorini dari Kejari Semarang kepada pihaknya. ”Benar Mas, ada penahanan untuk tersangka MS. Kondisinya dalam keadaan sehat, sekarang mungkin masih trauma berjalannya waktu nanti akan bisa menerima keadaan lapas,” kata Suprobowati ketika dihubungi koran ini.

Perlu diketahui, penyimpangan tersebut diduga berkaitan dengan kualitas dan kuantitas pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi. Dalam perkara ini Kejari Kota Semarang juga telah menahan mantan Kepala Seksi (Kasi) Penataan dan Pemetaan Dinas Pasar Kota Semarang Agus Widiatmono (AW).

Dari data presensi buku tamu yang dilihat koran ini di kantor Kejari Semarang terlihat banyak pejabat Dinas Pasar Kota Semarang yang sudah diperiksa maupun melakulan koordinasi, diantaranya; Latib, Sentot, Agus Widiatmoko, Trijoto Sarjoko, Ukhaki FD, Nur Kholis dan M. Rois B. Bahkan beberapa di antaranya datang lebih dari 1 kali.

Dari informasi yang dihimpun koran ini, proyek bangunan Pasar Jrakah tersebut terjadi dua dugaan penyimpangan sehingga dinilai menimbulkan kerugian keuangan negara. Pertama, hasil pemeriksaan diketahui terjadi kekurangan volume pekerjaan senilai Rp 78,5 juta atas lingkup pekerjaan antara lain pengembangan bangunan menjadi tiga lantai dari sebelumnya dua lantai. Kekurangan volume terjadi atas pekerjaan beton bertulang dan pekerjaan arsitektur.

Kedua, denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan sebesar Rp 76,5 juta oleh rekanan. Dalam proyek tersebut sesuai kontrak diketahui dikerjakan PT Indopenta Bumi Permai (IBP), perusahaan yang beralamat di Surabaya. (jks/zal/ce1)