PENUH RISIKO : Dian tahu betul risiko menjadi aktivis yang penuh dengan tekanan dari berbagai pihak. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENUH RISIKO : Dian tahu betul risiko menjadi aktivis yang penuh dengan tekanan dari berbagai pihak. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENUH RISIKO : Dian tahu betul risiko menjadi aktivis yang penuh dengan tekanan dari berbagai pihak. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENUH RISIKO : Dian tahu betul risiko menjadi aktivis yang penuh dengan tekanan dari berbagai pihak. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Dian menyadari semua pekerjaan tentu memiliki risikonya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, dia tidak gentar jika menghadapi banyak ancaman serta teror dari orang-orang yang tidak setuju dengan pergerakannya membela kaum perempuan.

“Kalau (ancaman melalui) telepon, SMS, sudah tidak terhitung lagi. Itu sudah menjadi bagian dari tanggung jawab sebagai aktivis perempuan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika ia didatangi langsung oleh lima preman di kantornya di Jalan Kauman Raya Semarang. Menurutnya, hal itu berkaitan dengan kasus yang melibatkan seorang pejabat di salah satu institusi pemerintahan di Jawa Tengah. “Mereka baru pergi setelah dipanggilkan polisi,” kenangnya.

Hal tak jauh beda ketika dirinya juga pernah didatangi salah satu ormas Islam. Mereka mempertanyakan terkait sikapnya terhadap kasus lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang marak saat ini. “Karena ini bagian dari perjuangan, ya tetap lanjut,” imbuhnya.

Dian menegaskan, setiap pekerjaan penuh dengan risiko. Bahkan orang keluar rumah pun tidak lepas dari risiko. Karenanya, hal itu tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk terus membela kaum hawa tersebut. “Justru dari situ membangun kekuatan sendiri,” pungkasnya. (fai/ric)