unika-web

Oleh:
Sansaloni Butar Butar

HARGA minyak dunia turun terus. Orang bertanya, apa yang terjadi?. Mengapa begitu cepat turun? Ada yang mengatakan perang harga sedang berlangsung. Ada pula yang mengatakan pasokan minyak dunia melimpah. Lho, bukankah yang selama ini dikhawatirkan adalah semakin menipisnya cadangan minyak bumi. Kenapa bisa melimpah?.

Kegamangan mulai menyeruak. Di tengah kebingungan, harga minyak dunia terus turun mendekati $30 per barel, terendah sejak tahun 2009. Negara-negara produsen minyak mulai panik mencari cara menutup defisit anggaran. Proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional terpaksa dikoreksi berkali-kali. Permintaan barang dan jasa global menurun.

Ekonomi dunia melambat menyusul melemahnya ekonomi Tiongkok dan Eropa. Sebagai negara pembakar minyak nomor dua setelah Amerika Serikat, lesunya ekonomi Tiongkok semakin memukul permintaan minyak dunia. Organisasi negara-negara pengeskpor minyak OPEC berkumpul, namun kesepakatan tidak tercapai. Arab Saudi menolak mengurangi produksi dan tetap kekeh melanjutkan perang harga dengan produsen-produesen minyak serpih (shale oil) dari Amerika Serikat. Akibatnya, pasar dunia terus menerus mengalami over supply. Begitulah kira-kira gambaran tentang situasi ekonomi politik selama satu tahun terakhir akibat dampak menurunnya harga minyak. Lantas bagaimana kita harus menyikapi situasi tersebut?. Haruskah gembira atau sedih menyaksikan harga minyak yang terjun bebas?