ANTISIPASI: Kapolres Temanggung AKBP Wahyu Wim Harjanto (kiri) bersama Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol A Lilik Sudarmanto saat memberikan keterangan terkait pembubaran latihan JAS. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
ANTISIPASI: Kapolres Temanggung AKBP Wahyu Wim Harjanto (kiri) bersama Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol A Lilik Sudarmanto saat memberikan keterangan terkait pembubaran latihan JAS. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
ANTISIPASI: Kapolres Temanggung AKBP Wahyu Wim Harjanto (kiri) bersama Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol A Lilik Sudarmanto saat memberikan keterangan terkait pembubaran latihan JAS. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
ANTISIPASI: Kapolres Temanggung AKBP Wahyu Wim Harjanto (kiri) bersama Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol A Lilik Sudarmanto saat memberikan keterangan terkait pembubaran latihan JAS. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEMARANG- Aktivitas kegiatan kelompok Jamaah Anshorut Shariah (JAS) di wilayah Jawa Tengah terus dipantau aparat kepolisian. Aktivitas tersebut dinilai tidak lazim dan telah meresahkan masyarakat.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol A Lilik Sudarmanto mengatakan aktivitas atau kegiatan kelompok JAS yang dilakukan di lereng Gunung Sumbing, Desa Gandurejo Kecamatan Bulu, Temanggung, Jumat (19/2) lalu telah dibubarkan aparat Polres Temanggung. Dihentikannya kegiatan tersebut dengan alasan telah meresahkan masyarakat.

“Adanya informasi dari warga sekitar yang merasa terganggu dengan latihan mereka, yang menggunakan atribut sepatu PDL, celana hitam PDL, kaos atau rompi JAS, ransel punggung, alas tidur matras,” ungkapnya saat jumpa pers di Mapolda Jateng, Senin (22/2).

Selain dianggap telah meresahkan masyarakat, kegiatan pelatihan tersebut juga dinilai tidak lazim. Dilakukan tengah malam dengan cara sembunyi-sembunyi serta tempat yang susah dijangkau warga. Selain itu, kegiatan pelatihan tersebut tidak adanya izin pemberitahuan kepada pihak kepolisian sektor setempat dan pihak perhutani.