TETAP SEMANGAT: Perayaan ulang tahun ke-12 kelompok suporter pendukung PPSM Magelang, Simolodro di Ruko Jalan Diponegoro. (Ahsan fauzi/radar kedu)
TETAP SEMANGAT: Perayaan ulang tahun ke-12 kelompok suporter pendukung PPSM Magelang, Simolodro di Ruko Jalan Diponegoro. (Ahsan fauzi/radar kedu)
TETAP SEMANGAT: Perayaan ulang tahun ke-12 kelompok suporter pendukung PPSM Magelang, Simolodro di Ruko Jalan Diponegoro. (Ahsan fauzi/radar kedu)
TETAP SEMANGAT: Perayaan ulang tahun ke-12 kelompok suporter pendukung PPSM Magelang, Simolodro di Ruko Jalan Diponegoro. (Ahsan fauzi/radar kedu)

MAGELANG- Vakumnya kompetisi sepak bola tanah air, semenjak adanya sanksi FIFA mengundang keprihatinan para penggila bola. Tak terkecuali para suporter, seperti pendukung setia PPSM Magelang, Simolodro.

Pendiri Simolodro Samsuri menuturkan, dibekukannya laga profesional tanah air telah membuat klub-klub merugi. Terutama kasta divisi utama maupun di bawahnya. Tak hanya pihak klub yang mendapat dampak buruk, para suporter dan masyarakat juga turut dirugikan dengan sanksi tersebut.

”Dengan ditiadakannya kompetisi, berdanpak pula pendapatan para pedagang atribut yang biasa jualan di sekitar Stadion Moch Soebroto, Kota Magelang. Jadi, tidak hanya para pemain, bahkan tukang parkir pun juga kena imbasnya,” kata Samsuri saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 Simolodro di Ruko Jalan Diponegoro, kemarin.

Lanjut Samsuri, animo masyarakat terhadap olahraga sepakbola terbilang tinggi. Seharuinya pemerintah berpikir supaya liga resmi kembali dipertandingkan.