BERSAMA KELUARGA : Djony Heru Suprijatno bersama istrinya, Nurul Fajriyah dan ketiga putra-putrinya, Fairuz Nadhira Nur S, Muhammad Sultan Aqil Rafi dan Qotrun Nada Inayah Az-Zahra. (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSAMA KELUARGA : Djony Heru Suprijatno bersama istrinya, Nurul Fajriyah dan ketiga putra-putrinya, Fairuz Nadhira Nur S, Muhammad Sultan Aqil Rafi dan Qotrun Nada Inayah Az-Zahra. (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSAMA KELUARGA : Djony Heru Suprijatno bersama istrinya, Nurul Fajriyah dan ketiga putra-putrinya, Fairuz Nadhira Nur S, Muhammad Sultan Aqil Rafi dan Qotrun Nada Inayah Az-Zahra. (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSAMA KELUARGA : Djony Heru Suprijatno bersama istrinya, Nurul Fajriyah dan ketiga putra-putrinya, Fairuz Nadhira Nur S, Muhammad Sultan Aqil Rafi dan Qotrun Nada Inayah Az-Zahra. (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

KERAP menjalani rotasi wilayah kerja di lingkungan Telkomsel, menambah banyak pengalaman hidup. Apalagi, tiap wilayah Indonesia memiliki karakteristik, budaya dan keindahan alam yang beragam. Hal itu mendukung hobi Djony memotret dan mengoleksi barang-barang kuno dan barang-barang antik.

Misal saat berkunjung di Papua dan Raja Ampat terhampar pemandangan alam yang luar biasa. Untuk mengabadikan pengalaman tersebut, maka memotret menjadi sangat mengasyikkan. Hasilnya, memang masih untuk koleksi pribadi. “Dulu pernah memiliki keinginan untuk membuat studio sendiri. Tapi masih membutuhkan ilmu dan sejumlah perangkat,” katanya.

Tidak hanya memotret, ketika berkunjung ke berbagai daerah juga banyak barang antik tiap daerah yang bernilai seni tinggi. Di antaranya, perahu suku Asmat yang merupakan kerajinan luar biasa. Kemudian perabotan Jawa kuno seperti capstok pakaian, joglo, maupun furniture. “Rumah-rumah kuno banyak menggunakan unsur kayu, jadi rasanya lebih adem dan tentram. Kalau rumah sekarang lebih banyak unsur tembok dan baja, sehingga terasa panas,” tuturnya.

Diakuinya, pekerjaannya di Telkomsel mendukung hobinya. Karena harus merambah berbagai wilayah yang memiliki keunikan tersendiri. “Jadi wawasan saya lebih bertambah. Ternyata Indonesia sangat kaya adat budaya dan kesenian. Secara khusus, saya bersyukur bisa hidup di Indonesia yang penuh kaenakeragaman,” katanya.

Budaya masyarakat ini, harapnya, harus dilestarikan. Minimal dijadikan hiasan rumah, sehingga bisa setiap saat menoleh ke belakang, sehingga tidak melupakan sejarah. “Memahami sejarah kita, bisa menjadi modal untuk lebih maju. Karena bisa meningkatkan kemampuan yang telah dikembangkan neneki moyang dengan karakteristik yang unik dan penuh filosofi,” tandasnya. (ida.nor.layla)