PERIKSA KESEHATAN : Penggiat HIV/AIDS dari PKBI Kabupaten Semarang saar melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap sejumlah laki-laki dari kalangan anak jalanan dan sukarelawan pengatur lalulintas. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERIKSA KESEHATAN : Penggiat HIV/AIDS dari PKBI Kabupaten Semarang saar melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap sejumlah laki-laki dari kalangan anak jalanan dan sukarelawan pengatur lalulintas. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERIKSA KESEHATAN : Penggiat HIV/AIDS dari PKBI Kabupaten Semarang saar melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap sejumlah laki-laki dari kalangan anak jalanan dan sukarelawan pengatur lalulintas. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERIKSA KESEHATAN : Penggiat HIV/AIDS dari PKBI Kabupaten Semarang saar melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap sejumlah laki-laki dari kalangan anak jalanan dan sukarelawan pengatur lalulintas. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Dulu lesbi, gay, biseksual dan transgender (LGBT) hanya menjadi gaya hidup remaja perkotaan. Tapi sekarang sudah mulai merambah pedesaan terutama yang laki suka laki (LSL) atau gay. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, lantaran memicu peningkatan kasus HIV/AIDS.

“Di Kabupaten Semarang sudah ada remaja pedesaan dan masih berstatus pelajar yang kena HIV/AIDS karena LGBT,” ungkap pegiat HIV/AIDS Kabupaten Semarang, Andreas Bambang, Selasa (2/2) kemarin.

Andreas menambahkan, temuan HIV/AIDS dari aktivitas LGBT rata-rata hanya lima kasus dalam setahun. Bahkan LGBT menjadi pemicu kenaikan HIV/AIDS dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Secara nasional penyebaran melalui aktivitas LGBT sekitar 50 kasus HIV/AIDS terutama dari kalangan laki suka laki (LSL) atau gay.

“Cepat menyebarnya LGBT karena para LSL ini terus mencari pasangan sejenis yang lebih muda untuk kebanggaan. Selain itu, karena adanya interaksi antara mereka dengan pria lain yang bukan gay. Selain itu, faktor ekonomi karena ingin cepat punya barang-barang bagus, lalu dimingi-imingi. Akhirnya mau jadi pasangan LSL,” imbuhnya.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Bupati Semarang, Sujarwanto Dwiatmoko berharap fenomena LGBT tidak merambah di Kabupaten Semarang, kendati sudah menjadi gaya hidup sebagian masyarakat. Untuk mengantisipasi LGBT merambah di kalangan pelajar, pihaknya meminta seluruh elemen masyarakat berperan aktif memberikan pengawasan dan bimbingan. “Mudah-mudahan LGBT itu tidak sampai masuk ke sekolah dan lingkungan masyarakat kita,” tandasnya. (tyo/ida)