OLEH: Berta Bekti Retnawati, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Semarang.
OLEH: Berta Bekti Retnawati, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Semarang.
OLEH: Berta Bekti Retnawati, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Semarang.
OLEH: Berta Bekti Retnawati, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Semarang.

Presiden Soekarno melontarkan pertama kali ide gerakan revolusi mental, pada peringatan kemerdekaan tahun 1956. Gerakan ini sebagai penyemangat segala warga Indonesia untuk memiliki jiwa manusia yang berintegitas, bekerja keras disertai semangat gotong royong. Ide dasar presiden pertama tersebut kembali digaungkan oleh Presiden Jokowi saat ini, mengingatkan segenap warga yang dipimpinnya untuk memiliki jiwa merdeka dan semangat positif meraih kemajuan demi kembali terangkatnya martabat dan kewibawaan bangsa di mata dunia.

Komitmen pemangku kekuasaan negara untuk menjadikan revolusi mental sebagai gerakan sosial, melibatkan seluruh partisipasi semua warga tidak terkecuali dalam memperbaiki segala dimensi masalah dan tantangan bangsa menuju negara yang berdaulat baik secara politik, ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Keterlibatan masyarakat termasuk dunia pendidikan dalam menjadikan revolusi mental dalam gerakan cintai bumi dan lingkungan menjadi salah satu wujud strategis yang bisa diaplikasikan. Pembentukan karakter adalah inti dalam revolusi mental, dan jalur pendidikan merupakan satu sarana strategik mengembangkan tujuan tersebut. Membangun karakter peserta didik untuk cinta lingkungan termasuk hutan, sudah diterjemahkan oleh