SEMARANG – Kabar hilangnya Rahastri, mahasiswi Universitas PGRI Semarang (Upgris) yang diduga bergabung dengan organisasi terlarang Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) sejak beberapa bulan silam, tidak dibantah oleh pihak pengelola kampus.

Ketua Yayasan Pengelola Upgris, Sudharto, justru mengakui terkait hilangnya mahasiswi semester 5 Jurusan Ilmu Matematika Upgris yang merupakan warga Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Dijelaskan Sudharto, pihaknya tidak merasa kecolongan jika nantinya terbukti bahwa mahasiswi yang hilang tersebut telah bergabung dengan organisasi terlarang tersebut. Alasannya, pihak kampus memang tidak diperbolehkan mengekang mahasiswanya melakukan kegiatan di luar, tak terkecuali ikut dalam wadah sebuah organisasi. ”Kalau kami larang, itu namanya melanggar HAM,” kata Sudharto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (19/1) kemarin.

Menurut Sudharto, pihak kampus selama ini telah memfasilitasi mahasiswa dengan beberapa kegiatan yang mendapat perhatian langsung dari kampus. ”Seperti halnya HIMA (Himpunan Mahasiswa). Kalau untuk organisasi seperti yang lain memang bukan bentukan kampus. Dan lampus tidak berhak melarang mahasiswanya untuk aktif di organisasi luar,” katanya.

Beberapa organisasi luar kampus maupun organisasi yang mengatasnamakan agama, sejak dulu memang tumbuh subur. Meski telah diberikan wadah berorganisasi di dalam kampus, namun tetap masih banyak mahasiswa yang keluar jalur dan tetap memilih mengikuti organisasi di luar kampus. ”Ekstra kampus seperti HMI dan KAMMI, sebenarnya tidak boleh melakukan kegiatannya di dalam kampus. Namun kami juga tidak bisa melarangnya,” katanya.

Sementara itu, Rahastri sebelum menghilang dikabarkan sempat mengutarakan niatnya mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Malaysia. Setelah mengutarakan niatnya itu, pada 10 November 2015, Rahastri sempat pulang ke rumah dan berpamitan akan berangkat menuju Malaysia. Momentum itu ternyata kali terakhir orang tuanya bertemu dengan Rahastri.

Hilangnya Rahastri yang diduga ikut bergabung dengan kelompok terlarang Gafatar tersebut semakin menguat. Pasalnya untuk semester lima, pihak kampus menyatakan jika di kampus tersebut tidak ada program pertukaran mahasiswa ke luar negeri. ”Mahasiswa tersebut sudah dari beberapa bulan yang lalu tidak terlihat di kampus dan tidak mengikuti kegiatan kampus,” kata Rektor Upgris, Muhdi.