KERING: Ketua Fraksi PDIP Sugiharno menunjukkan pintu saluran irigasi di Desa Bogosari, Kecamatan Guntur kering dan tidak berfungsi karena tidak ada sumber airnya. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KERING: Ketua Fraksi PDIP Sugiharno menunjukkan pintu saluran irigasi di Desa Bogosari, Kecamatan Guntur kering dan tidak berfungsi karena tidak ada sumber airnya. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK- Meski hujan sudah berlangsung beberapa hari terakhir diwilayah Demak, namun saluran irigasi skunder diwilayah Kecamatan Karangawen, Kecamatan Guntur dan Kecamatan Sayung hingga kini masih kering dan belum teraliri air. Akibatnya, musim tanam pertama di wilayah tersebut terlambat. Sebab, petani hanya mengandalkan tadah hujan saja. Karena itu, tekhnis menanam bibit padi hanya bisa dilakukan dengan cara sistem gogo rancah yaitu, memakai alat kayu yang dilancipi diujungnya (ceblok).

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Demak, H Sugiharno mengatakan, sebetulnya fasilitas saluran irigasi sudah ada. Tapi, sumber air untuk irigasi tersebut masih terkendala. “Kita berharap, waduk Jragung dapat dibangun dan difungsikan agar sistem pengairan pertanian di wilayah selatan Demak tersebut dapat lancar. Sebab, jika kondisinya masih seperti sekarang ini, maka usaha pertanian tidak akan maksimal,” katanya.

Menurutnya, Demak merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional. Tapi, produksi padi masih terhambat irigasi yang tidak ada airnya. “Ini berbeda dengan saluran air irigasi di wilayah Demak bagian timur yang mendapatkan pasokan air irigasi dari Waduk Kedungombo. Pertanian disana lebih makmur,” katanya.