Pertanyaan :
Assalamu’alaikum Bapak DR KH Ahmad Izzuddin, M Ag di Jawa Pos Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan Allah SWT. Mau tanya, belakangan ini banyak beredar di media sosial broadcast tentang anjuran berpuasa di bulan Sura. Apakah memang ada dalil atau anjuran untuk melakukan puasa tersebut? Dan apakah nabi pernah melakukannya? Demikian pertanyaan saya, mohon penjelasan dan keterangannya. Semoga pak kiai selalu dilindungi Allah. Amin. Wassalamu’alaikum Warahmatullah.
Hisyam, 085641755xxx di Genuk

Jawaban :
Wa’alaikumussalam Warahmatullah Bapak Hisyam di Genuk yang saya hormati dan juga dimuliakan oleh Allah. Terima kasih banyak atas pertanyaan bapak dan semoga bapak sekeluarga senantiasa dalam lindungan Allah pula, amin.

Hari Asyura atau hari yang jatuh pada tanggal 10 Muharam, adalah hari yang diagungkan dan memiliki banyak sejarah. Dalam literatur kitab klasik kita tentu sering mendengar kejadian pada tanggal 10 Asyura. Di antaranya, Allah menerima taubatnya Nabi Adam, Allah mengangkat derajat Nabi Idris, Allah mengeluarkan Nabi Nuh dari kapal, Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari Api, Allah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, Allah mengeluarkan Nabi Yusuf dari penjara, Allah mengembalikan penglihatan Nabi Ya’qub, Allah memulihkan kesehatan Nabi Ayyub, Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari ikan paus, Allah membelah laut untuk Bani Israil pada kejadian Nabi Musa, Allah mengampuni dosa Nabi Nuh dan Nabi Daud.

Namun di balik itu semua, orang muslim dilarang untuk berbuat bid’ah di dalamnya. Hanya ada anjuran untuk berpuasa sebagaimana nabi pernah melakukannya pada zaman jahiliyyah. ”Dari Abi Qatadah, sesungguhnya Nabi SAW bersabda : Puasa hari Asyura, aku mengharapkan pahalanya di sisi Allah dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun sebelumnya” (HR. Muslim dan Ibnu Majah). Dari Ibnu Abbas, ”Rasulullah Saw memerintahkan berpuasa pada hari Asyura, hari kesepuluh dari bulan Muharam.” (HR. Tirmidzi).

Kemudian perlu juga untuk diketahui, bahwasanya tanggal 10 Muharam merupakan hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani. Ibnu Abbas berkata, ketika Rasulullah melakukan puasa Asyura dan memerintahkan kaum muslim melakukannya, ada salah satu sahabat yang berkata, ”Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani”. Kemudian beliau mengatakan, ”Apabila tiba tahun depan –Insya Allah- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan”. Ibnu abbas mengatakan ”Belum sampai tahun berikutnya, nabi meninggal dunia.”

Oleh karenannya, disunahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi SAW berpuasa pada hari kesepuluh dan berkeinginan juga berpuasa pada hari kesembilan atau sering disebut dengan hari Tasu’a.

Namun ada pula ulama yang memiliki perbedaan pendapat, yakni berpuasa pada hari sebelum Asyura dan sesudahnya. Dengan kata lain mereka berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharam. Hal ini bertumpu kepada hadis yang diriwayatkan Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma’anil Atsar, dan juga Al-Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari Atho dari Ibnu Abbas. Beliau berkata ”Selisilah Yahudi, puasalah pada hari kesemnilan dan kesepuluh Muharam” dan ”Puasalah pada hari Asyura dan selisilah Yauhudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya”. Banyak ulama yang mengatakan hadis pertama mauquf (atau hanya dinilai sebagai perkataan sahabat saja) meskipun ada yang menganggap sanad hadis ini shahih.

Demikian jawaban dan penjelasan dari saya, wallahu a’lam bisshowab. Semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. (*/ric/ce1)