INOVATIF: Muhammad Nur dan Zeta Green, alat pembersih udara menggunakan teknologi plasma temuannya. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Muhammad Nur dan Zeta Green, alat pembersih udara menggunakan teknologi plasma temuannya. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Teknologi plasma bisa dimanfaatkan sebagai penjernih udara. Alatnya ditemukan oleh Dosen Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (Undip) Muhammad Nur. Alat pembersih udara ini diklaim baru pertama di Indonesia. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Tembalang

HINGGA kini teknologi plasma belum banyak digunakan di Indonesia. Dari penelitian teknologi plasma yang hampir 15 tahun, dosen Undip Muhammad Nur berhasil menemukan alat penjernih udara. Alat yang memiliki tinggi 1 meter ini dalam satu menitnya mampu menyedot 20 liter udara. Cara kerja dari alat yang diberi nama Zeta Green ini memang seperti penjernih udara yang lain. Namun yang beda adalah penggunaan teknologi plasma.

Dikatakan, selama ini alat penjernih udara belum ada yang menggunakan teknologi plasma. ”Plasma dilirik oleh dunia internasional memang baru-baru ini. Namun lebih dari 10 tahun saya sudah bergelut di bidang ini. sehingga lahirlah alat ini. Alat dengan ukuran tinggi 1 meter ini dapat menyedot udara di dalam ruangan seluas 3×4 meter persegi,” kata Nur kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (26/8).

Selain itu, kata dia, alat tersebut juga dapat dipasang di mana saja. Khususnya yang memiliki tingkat polusi udara tinggi. Misalnya, di stasiun kereta api, bandara, terminal, ruang smoking area, serta tempat-tempat umum lainnya.

Cara kerjanya, jelas Nur, udara dari luar disedot, kemudian diembuskan lagi. Namun saat udara disedot, udara akan dinetralisirkan oleh reaktor plasma, dan dibangkitkan dengan reaktor plasma yang bertegangan tinggi. Kemudian udara didorong keluar.

”Udara yang keluar tidak mengandung polusi. Kalau masuk ke alat ini berupa asap, keluar dari alat ini akan kembali jernih, karena sudah dinetralisirkan oleh reaktor plasma. Segala virus, jamur, dan bakteri dapat mati jika sudah kesedot ke dalam alat ini. Sehingga udara yang dihirup akan sangat aman,” jelasnya.

Alat tersebut juga sudah pernah dilakukan uji coba di dalam ruang 3×4 meter persegi yang berisi 6 orang tengah merokok. Yang terjadi, asap rokok yang disedot oleh Zeta Green ini bisa ternetralisirkan. Selain itu, kelebihan udara yang keluar tidak pedih di mata dan baju juga tidak bau asap rokok. Alat yang berbentuk tabung panjang tersebut di dalamnya terdapat 3 komponen inti, yakni kipas untuk menyedot udara, reaktor plasma, serta kipas pendorong udara keluar yang berada di bagian bawah.

”Membersihkan alat ini juga mudah, tinggal membuka bagian bawah alat dan membersihkannya dengan kuas. Reaktor plasma tahan lama. Besar kecilnya alat tergantung dari kebutuhan akan diletakkan di ruangan. Untuk pemakaiannya, alat ini dibiarkan hidup 24 jam nonstop. Suara juga tidak bising,” tuturnya.

Dijelaskan Nur, untuk penjernih udara menggunakan plasma di Indonesia belum ada, dan alat tersebut merupakan kali pertama. Di dunia hanya ada beberapa, antara lain di Jerman. Zeta Green juga telah mendapat penghargaan dari PT Angkasa Pura II kategori temuan terbaik untuk tata ruang dan keselamatan penumpang di bandara.

”Angkasa Pura mencoba mendongkrak inovator Indonesia dan lingkungan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dalam bandara. Karena saya sudah lama bergerak di bidang teknologi plasma, dan plasma itu bisa menjadi alternatif untuk kebersihan udara di dalam ruangan, maka inovasi yang saya ciptakan ini terpilih dan memperoleh penghargaan,” katanya bangga.

Seperti diketahui, udara di dalam bandara berasal dari masyarakat yang heterogen. Selain itu, di dalam bandara terdapat beberapa tempat yang digunakan untuk smoking area. Tetapi dalam ruangan tersebut belum dilengkapi peralatan treatment khusus.

”Jadi, saya sangat yakin produk yang kita ciptakan ini bisa dimanfaatkan oleh instansi untuk menyerap asap rokok. Selain itu, plasma juga bisa membunuh kuman, menghilangkan bakteri, membunuh jamur, dan menghilangkan virus,” ujarnya.

Dengan demikian, kata dia, perpindahan penyakit menular dari satu negara ke negara lain yang pintunya berada di bandara bisa diantisipasi.

”Kalau bisa kita sterilkan bandara dari penyakit-penyakit dan virus-virus berbahaya seperti ebola dan MERS. Alat ini akan sangat membantu penumpang,” ungkapnya. (*/aro/ce1)