SEBATAS ANGAN-ANGAN: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menunjukkan kartu tani. Program kartu tani yang digagas belum dirasakan dampaknya oleh petani. Hingga saat ini, kartu tersebut baru terdistribusi 240 buah di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang. (Radar Semarang files)
SEBATAS ANGAN-ANGAN: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menunjukkan kartu tani. Program kartu tani yang digagas belum dirasakan dampaknya oleh petani. Hingga saat ini, kartu tersebut baru terdistribusi 240 buah di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang. (Radar Semarang files)

SEMARANG – Kepemimpinan pasangan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wakil Gubernur Heru Sudjatmoko sebentar lagi masuk pada tahun ketiga. Beberapa program maupun kebijakan telah banyak dilakukan pada masa dua tahun ini. Ada yang dinilai cukup berhasil, namun tidak sedikit yang dinilai tumpul alias tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Pengamat politik dan pemerintahan Undip M. Yulianto mengungkapkan, dari sisi infrastruktur sudah mulai berjalan signifikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya pembangunan di beberapa titik di Jateng. ”Meskipun belum semuanya akan tetapi sudah ada pelaksanaan riil di sektor tersebut,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Adapun untuk sektor lain, sambung Yulianto, masih banyak catatan. Misalnya terkait hubungan komunikasi dengan pemerintah kabupaten/kota yang dinilai kurang adanya konsolidasi. ”Saya melihat sangat jarang terjadi pertemuan resmi yang secara intensif membahas pembangunan di Jateng,” imbuhnya.

Terkait pengembangan investasi di Jateng, Yulianto juga mengaku belum maksimal. Dalam hal ini gubernur dinilai tidak berhasil dalam membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat terkait pembangunan ekonomi. Hal yang sama menurutnya juga terjadi di sektor pertanian, kelautan dan perikanan. ”Selama ini hasil pertemuan dengan para petani dan nelayan masih sekadar say hello. Karena tidak pernah ada tindak lanjut yang jelas. Sehingga belum menjadi realisasi yang dapat dilihat masyarakat,” bebernya.

Jika diminta untuk memberikan penilaian berdasarkan angka, Yulianto memberikan nilai 7 pada sektor infrastruktur. Sementara untuk sektor lainnya mendapat nilai 6 dari angka maksimal 10. ”Khusus untuk pembangunan stabilitas sosial dan politik karena keberhasilan menjaga situasi kemajemukan Jateng saya beri nilai 7,5 dan upaya mewujudkan pemprov relatif bersih dan jujur dengan nilai 8,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pencapaian selama dua tahun ini masih jauh dari ideal. Karena gubernur terkesan masih melakukan komunikasi dengan cara mendekatkan diri dengan komunitas masyarakat tanpa melakukan tindak lanjut. Menurutnya, hal itu cukup dilakukan pada tahun pertama. Sedangkan pada tahun kedua, telah dirumuskan berbagai policy (kebijakanan) yang akan dilaksanakan. Baru pada tahun ketiga direalisasikan secara riil, tahun keempat evaluasi dan tahun kelima telah ada hasilnya.

”Saya ibaratkan gubernur saat ini baru menjadi sopir bus VVIP di mana birokrasinya besar dan SDM juga bagus namun belum menguasai mesin dengan baik sehingga masih berjalan pelan-pelan,” ujarnya.

Kendati demikian, Yulianto mengaku optimistis pada sisa waktu tiga tahun terakhir gubernur mampu mengejar ketertinggalan. Hal ini didasarkan pada kualitas, kapasitas, dan integritas yang dimiliki dalam menciptakan perubahan dan menggerakkan roda pemerintahan. ”Kuncinya adalah melaksanakan pembangunan sepenuhnya untuk pelayanan publik,” terangnya.

Ia mengusulkan ke depannya gubernur membuat pilot project yang menjadi ekspektasi masyarakat yang dapat direalisasikan pada tahun depan. Project tersebut menjadi target utama pemprov dengan anggaran yang cukup. Selanjutnya, project yang diberikan kepada SKPD itu dikontrol dengan baik sehinga menjadi shock therapy bagi SKPD lainnya.

Terpisah, Ganjar Pranowo mengakui selama dua tahun kepemerintahannya masih banyak kekurangan. Menurutnya, apa yang telah dilakukan selama ini belum ada apa-apanya dibanding tingginya harapan masyarakat. Terlebih pihaknya harus menyesuaikan kondisi ekonomi seperti saat ini yang mengharuskan untuk memutar langkah untuk dapat terus tancap gas.

”Insya Allah tahun ini mulai nampak konsentrasi. Yaitu mempersiapkan infrastruktur menuju kondisi yang lebih baik. Meskipun begitu, bukan berarti saya tidak memperhatikan yang lain. Karena semua berjalan bareng,” ujarnya.

Ia mencontohkan, pembangunan infrastruktur jalan akhir tahun ini naik mencapai 300 persen. Sebentar lagi juga akan dilakukan percepatan pembangunan waduk-waduk dan pemindahan angkutan barang menuju rel. ”Kita akan mengejar tahun 2016 menjadi lebih baik. Targetnya 2017 sudah beres,” katanya.

Disinggung terkait komunikasi dengan kepala daerah di kabupaten/kota, Ganjar mengaku sangat baik. Bahkan, menurutnya, mereka mendukung program-program yang dijalankan. Tidak hanya itu saja, kalangan dewan juga mendukung untuk mewujudkan Jateng menjadi lebih baik. ”Meskipun beberapa kali ada hal yang tidak setuju itu menjadi hal yang wajar,” terangnya. (fai/ric/ce1)