SEMARANG – Ribuan penghobi burung berkicau berkumpul di Balai Sindoro, PRPP, Minggu (16/8). Mereka ambil bagian dalam Lomba Pameran Burung Berkicau Gubernur Jateng Cup 2015. Bagi para kicau mania, mengikuti lomba tak sekedar untuk memuaskan hobi. Lomba juga ajang adu gengsi. Sebab burung yang menang nilai jualnya akan naik, bahkan mencapai miliaran rupiah.

Baca : Komunitas Lovebird Indonesia Korwil Ungaran, Semarang dan Ambarawa (USA): Selektif Pilih Anggota, Utamakan Kualitas Hasil Ternak

Lomba Kicau yang digelar dalam rangka Hari Jadi Jateng tersebut diikuti 1.200 penghobi. Selain dari Jateng, mereka datang dari Jabodetabek, bahkan luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, dan Bali. Menurut Ketua BNR Jateng yang juga penyelenggara lomba, Budi Setyo Purnomo, jumlah peserta membludak meski biaya pendaftaran yang dikenakan lebih mahal dibanding lomba lain.

Lomba dibagi dalam 28 kategori berdasarkan jenis burung. Diantaranya kategori murai, lovebird, cucak ijo, kacer, dan kenari. Menurut Budi, beberapa peserta membawa burung andalan yang sudah terkenal. Diantaranya burung lovebird milik penghobi dari Klaten yang diberi nama Kusumo. “Kusumo setiap lomba selalu menang. Tadi ada yang menawar hingga Rp 1,6 miliar tapi tidak dikasih,” ujarnya.

Saking fenomenalnya, begitu Kusumo mendaftar lomba, banyak peserta lain yang mundur. Budi menceritakan burung dengan kicauan dahsyat seperti Kusumo setiap minggunya bisa meraih hadiah uang hingga Rp 50 juta dalam berbagai perlombaan. “Itu dihitung jika di setiap lomba 8 kali main,” imbuhnya. Dalam perlombaan tersebut, para juri menilai durasi, irama, dan volume kicau burung peliharaan.

Pendiri BNR, Bang Boy menambahkan berbagai lomba kicau yang digelar sebenarnya bukan tujuan akhir pihaknya. Dibalik itu pihaknya memiliki misi mulia. Diantaranya membangkitkan ekonomi para pelaku di dalamnya. Boy menyebut perputaran uang dari penjualan burung, pakan, dan sangkar di Indonesia bisa mencapai triliunan rupiah per tahun.

Lebih dari itu, pihaknya juga memiliki misi konservasi. Upaya konservasi yang digalakkan adalah hanya memperbolehkan burung hasil penangkaran untuk diperjualbelikan dan mengikuti lomba. Dengan begitu, tidak ada lagi yang menangkap burung di hutan karena pasti tidak akan laku. “Lagipula burung hasil penangkaran pasti kualitasnya lebih bagus karena dari kecil diberi vitamin,” ungkap Boy yang sudah diundang ke Singapura dan Brasil untuk bicara tentang konservasi ini. (ric)