Asyik Bergoyang saat Rina Iriani-Didi Kempot Berduet

635
BINTANG LAPAS: Rina Iriani Ratnaningsih berfoto bersama Didi Kempot dan petugas Lapas Wanita Kelas II A Bulu Semarang. (kanan) Maryam Babai, napi asal Iran. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BINTANG LAPAS: Rina Iriani Ratnaningsih berfoto bersama Didi Kempot dan petugas Lapas Wanita Kelas II A Bulu Semarang. (kanan) Maryam Babai, napi asal Iran. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Suasana Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Kelas II Bulu Semarang kemarin (29/7) tampak meriah. Ratusan orang berkumpul di halaman tengah lapas tersebut. Mereka tampak asyik menikmati siraman rohani dilanjutkan hiburan musik. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

SIANG itu, mantan Bupati Karanganyar, Rina Iriani Ratnaningsih tampak berbinar. Mengenakan kain gamis warna putih dipadu jilbab warna hijau, terpidana kasus korupsi dana subsidi Perumahan Griya Lawu Asri (GLA) Kabupaten Karanganyar 2007-2008, seakan menjadi bintang panggung dalam acara halalbihalal keluarga besar Lapas Wanita Bulu. Apalagi mantan orang nomor satu di Karanganyar ini sempat berduet dengan penyanyi Didi Kempot menyanyikan lagu Tanjung Emas Ninggal Janji.

”Aku sik kelingan naliko ning pelabuhan. Kowe janji lungo ra ono sewulan. Nanging saiki, wis luwih ing janji. Nyatane kowe ora bali-bali. Ning Pelabuhan Tanjung Mas kene. Biyen aku ngeterke kowe. Ning Pelabuhan Semarang kene aku tansah ngenteni kowe.”

Setidaknya lagu tersebut cukup menghibur para narapidana maupun tahanan setempat. Seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP) tampak antusias mengikuti jalannya acara. Sejenak mereka bisa melupakan status mereka sebagai napi dan tahanan yang berurusan dengan hukum. Tak sedikit para WBP tersebut langsung ikut bergoyang dan bersorak-sorai begitu Rina Iriani dan Didi Kempot berduet di panggung.

Tak kalah meriahnya duet juga dibawakan Didi Kempot dengan Kepala Lapas Wanita Kelas II A Bulu, Suprobowati. Keduanya menyanyikan lagu berjudul Cucak Rowo. Hiburan yang berlangsung selama 1,5 jam tersebut begitu bermanfaat bagi para WBP.

Sebelum acara dimulai pejabat Lapas Wanita Bulu juga ramai mengikuti foto bersama dengan Didi Kempot dan Rina Iriani. Semua petugas asyik bergantian foto dan sebagian ada yang selfie dengan Didi Kempot. Rina juga tampak akrab dengan para petugas. Foto bersama tersebut tidak berlangsung lama hingga semua kemeriahan terjadi di halaman lapas lokasi acara halalbihalal.

Didi Kempot mengaku sangat senang bisa menghibur penghuni Lapas Wanita Bulu. Ia yang sebelumnya mengira WBP sangat garang-garang, ternyata justru ramah dan akrab, semuanya damai. ”Wedoke lemu dan ginuk-ginuk, opomaneh ayu (Perempuannya gemuk dan cantik-cantik menarik). Saya denger ada primadona dari luar negeri namanya Maryam ya?,” kata Didi.

Dalam halalbihalal kemarin, juga diisi tausiyah oleh Ketua Basmas Jateng, KH Markani. Kepala Lapas Bulu Semarang, Suprobowati, mengatakan, kegiatan halalbihalal ini merupakan bentuk silaturahmi dan pembinaan bagi WBP. ”Halalbihalal ini juga bagian dari kegiatan pembinaan mental dan spritual WBP. Selain itu jadi kegiatan refreshing. Kita berusaha untuk merubah attitude WBP agar lebih baik,” ujar Suprobowati.

Dia juga mengatakan, di lapas yang dipimpinnya terdapat WBP sebanyak 323 orang, di mana 50 persen WBP jarang dibesuk oleh keluarganya. Sehingga kegiatan ini sangat dibutuhkan. ”WBP di Lapas Bulu paling banyak narapidana kasus narkoba Mas. Jumlah narapidana ada 281 orang, sedangkan jumlah tahanan 42 orang, dan 6 orang di antaranya warga negara asing (WNA) serta seorang bayi ikut ibunya,” ungkap Suprobowati.

Salah satu narapidana kasus narkoba, Maryam Babai, 39, WNA asal Iran mengaku suka dengan acara tersebut. Ia mengetahui halalbihalal untuk meminta maaf. ”Saya sudah 5 tahun 9 bulan di sini (Lapas Wanita Bulu). Saya divonis 10 tahun. Keluarga saya juga belum pernah datang, jadi keluarga saya adalah Tuhan. Saya sudah dekat banget sama Tuhan. Kalau saya sudah bebas, saya berencana akan di Indonesia dulu selama 2 tahun baru kembali ke Iran,” kata ibu dua anak tersebut.

Setelah bebas, Maryam berencana akan bertemu keluarganya. Selama di lapas ia mempunyai kesibukan di salon lapas. ”Dulu aku juga kerja di salon. Saya alami kasus narkoba (sabu) dianggap bagian dari kurir, padahal saya cuma dititipi dan tidak tahu isinya,” akunya.

Maryam mengaku telah belajar banyak di lapas, terutama bisa dekat dengan Tuhan. ”Saya di sini sudah belajar banyak dan bisa lebih dekat dengan Tuhan. Insya Allah saya di sini akan berubah lebih baik, dan saya muslim,” ujarnya.

Dia juga memohon kedutaannya bisa menguruskan remisi akan masa tahanan yang sudah dijalani. ”Saya minta remisi diuruskan, kalau Kedubes bisa menangguhkan semoga bisa bebas. Apalagi anak saya dua masih di Iran,” katanya. (*/aro/ce1)