KENDAL – Dinas Pendidikan Kendal mulai memberlakukan lima hari sekolah ditingkatan SMA dan SMK mulai Senin (27/7) kemarin. Kebijakan ini sesuai Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Tengah Nomor 420/006752/-2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Provinsi Jawa Tengah. Meski dalam surat edaran hanya uji coba, ternyata di Kendal hampir diberlakukan semua sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kendal, Muryono mengatakan, meski sudah diberlakukan tapi belum semua sekolah dapat menerapkan lima hari sekolah. Dari 32 SMA yang sudah menerapkan lima hari baru 31 sekolah. Satu sekolah yang belum menerapkan yakni SMA Islam Al Fath, Plantungan.
Sedangkan yang SMK baru 23 sekolah dari total 48 SMK di Kendal. “25 SMK masih mengunakan enam hari sekolah. tapi itu semua SMK swasta, kalau SMK negeri sudah semua,” katanya.

Meski sudah mulai diterapkan, selama satu semester ini pihaknya terus akan melakukan pemantauan dan evaluasi setiap bulannya. Evaluasi dilakukan bersama Dewan Pendidikan, Badan Musyawarah Sekolah, Pengawas Pendidikan, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah, Komite Sekolah dan DPRD Komisi D Bidang Pendidikan. Jika tidak ada kendala maka lima hari sekolah akan diterapkan diseluruh sekolah SMA dan SMK di seluruh kabupaten Kendal. “Sebaliknya, jika bermasalah maka akan kami lakukan evaluasi kembali lagi pada enam hari sekolah,” imbuhnya.

Pemberlakuan lima sekolah ditingkatan SMA dimulai pembelajaran sejak pukul 07.00-15.30, sedangkan SMK sampai pukul 16.00. Panjangnya jam sekolah selama sehari, mulai diberlakukan jam istirahat yang cukup dengan tiga sesi istirahat, yakni pagi, siang dan menjelang sore hari. “Saya kira, pelajaran disekolah itu bukan ditentukan lama dan tidaknya jam pelajaran. Tapi kualitas dari setiap pertemuan dari pengajar dalam mengajar siswanya di sekolah,” tambahnya.

Ketua Fuspaq Kendal, Mukhamad Mustamsikin mengatakan bahwa jam belajar lima hari sekolah akan mengganggu pendidikan informal. Sepertii Madrasah Diniyah (madin), pondok pesantren dan TPA. Sebab, selama ini, proses belajar-mengajar Madin, TPA maupun Ponpes dilaksanakan pada siang dan sore hari. “Perlu diperhatikan juga, bahwa madin, ponpes, TPA merupakan salah satu lembaga pendidikan yang fokus mengembangkan ilmu keagamaaan (Islam),” katanya.

Ia menambahkan, jika jam belajar diperpendek harinya dari enam hari menjadi lima hari, praktis akan mengancam kegiatan pembelajaraan agama yang sudah berjalan di masyarkaat selama ini. “Sebab jam belajar sekolah pasti akan lebih panjang dari sebelumnya,” imbuhnya.

Mustamsikin yang juga Wakil Bupati Kendal sudah meminta Dinas Pendidikan setempat untuk kembali mengkaji program lima hari sekolah sesuai Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor 420/006752/-2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Provinsi Jawa Tengah. Enam hari sekolah dengan jam belajar hingga pukul 14.00 itu tak sedikit siswa Madin berkurang, karena merasa letih usai sekolah. Lebih-lebih lagi jika diberlakukan tahun ini, maka akan mengancam lembaga pendidikan informal yanng ada di masyarakat. (bud/fth)