NGALAB BERKAH: Ratusan warga tumplek-blek saat arak-arakan Sesaji Rewanda di kompleks Goa Kreo Kandri, Gunungpati, Semarang kemarin. Mereka memperebutkan empat Gunungan Sego Kethek. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NGALAB BERKAH: Ratusan warga tumplek-blek saat arak-arakan Sesaji Rewanda di kompleks Goa Kreo Kandri, Gunungpati, Semarang kemarin. Mereka memperebutkan empat Gunungan Sego Kethek. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KANDRI – Ratusan warga kemarin (23/7) berebut hasil bumi dalam festival arak-arakan sesaji Rewanda yang berlangsung di kawasan Goa Kreo, Kelurahan Kandri, Gunungpati, Semarang. Tradisi setahun sekali itu digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang. Selain sebagai ungkapan rasa syukur, prosesi yang digelar setelah Lebaran ini dikemas untuk menarik wisatawan berkunjung ke desa wisata tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Masdiana Safitri, mengungkapkan, event budaya seperti ini terbilang efektif menggaet wistawan baik domestik maupun mancanegara. Bahkan pihaknya menggandeng biro travel di luar Kota Semarang untuk menawarkan event budaya tersebut kepada wisatawan.

”Desa wisata memang harus bisa mengangkat potensi lokal. Kalau Goa Kreo sendiri tengah dalam tahap penggarapan. Akan ada beberapa event lagi agar semakin dikenal wisatawan. Salah satunya Legenda Kreo yang akan digelar malam hari,” terangnya.

Tradisi Rewanda kali ini terbilang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Empat Gunungan Sego Kethek sengaja dirancang lebih tinggi hingga mencapai empat meter. Gunungan tersebut merupakan kumpulan makanan hasil bumi penduduk lokal yang memiliki makna tersendiri.

”Gunungan Sego Kethek merupakan ciri khas dalam tradisi ini. Sego Kethek terdiri atas nasi, urap sayur, tempe dan tahu yang dibungkus dalam daun. Gunungan itu juga dilengkapi buah-buahan, hasil bumi dan ketupat/lepet,” ungkap Kasi Kesos Kelurahan Kandri, Budi Utomo.

Keempat gunungan diarak oleh empat pemuda yang mengenakan kostum kera, seorang warga berpakaian Sunan Kalijaga, barisan sembilan pemuda berperan sebagai prajurit kerajaan, serta barisan pager ayu yang terdiri atas empat wanita dan laki laki. Sebuah replika kayu jati soko guru Masjid Agung Demak turut dihadirkan untuk memeriahkan tradisi.

Di pelataran tersebut masyarakat saling berebut gunungan tumpengan. Selain itu, terlihat puluhan kera berekor panjang ikut berebut gunungan buah-buahan. ”Inti dari Sesaji Rewanda telah dilaksanakan pada H+3 Lebaran lalu sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan dan menjaga kelestarian alam bagi manusia. Jadi tahun ini ritual Sesaji Rewanda digelar dua kali,” katanya.

Sesepuh kampung setempat, Sumari, 70, mengatakan, Sesaji Rewanda memiliki tiga tujuan, yakni sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan keselamatan selama ini. ”Ini sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, sebagai napak tilas Sunan Kalijaga di Goa Kreo saat mencari batang kayu jati untuk mendirikan Masjid Agung Demak. ”Sedangkan tujuan ketiga, sebagai ritual memberi makan kera ekor panjang yang konon telah membantu Sunan Kalijaga dalam mencari kayu jati,” katanya. (amh/hid/aro/ce1)