TEGAL – Sepekan menjelang Lebaran, harga daging sapi dan ayam di pasar tradisional mengalami peningkatan. Tingginya permintaan menurut beberapa pedagang menjadi salah satu penyebab melonjaknya harga daging di tingkat eceran.

Sumitri, 59, pedagang di Pasar Kemantran membenarkan hal itu. Menurut dia, kenaikan harga daging sapi dan daging ayam broiler lebih dikarenakan tingginya permintaan menjelang Lebaran. Daging sapi saat ini dijual Rp 110.000 per kilogram atau naik Rp 3.000 dari harga sebelumnya. Meski terjadi kenaikan, permintaan justru mengalami kenaikan karena banyak warga terutama kalangan rumah tangga yang membeli daging sapi untuk keperluan berbuka atau makan sahur selama ramadan dan menjelang lebaran. Harga bisa meningkat mendekati lebaran saat permintaan mencapai puncaknya. Pedagang seperti dirinya, hanya bisa mengikuti mekanisme harga yang terjadi di pasaran.

Jika harga daging sapi dari peternak atau pemotongan sudah naik, maka dia akan menaikkan harga di tingkat eceran. Sebaliknya, saat harga turun, maka di tingkat eceran harganya juga akan diturunkan. “Meski terjadi kenaikan, tetapi permintaan justru mengalami peningkatan,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Purnomo, 41, pedagang ayam potong. Kenaikan harga, katanya, masih dalam batas yang wajar karena tidak melebihi Rp 5.000 per kilogram. Daging ayam broiler misalnya, saat ini dijual Rp 32.000 per kilogram atau naik Rp 2.000 dari harga sebelumnya Rp 30.000.

Bagi pedagang maupun pembeli, terjaganya pasokan yang melimpah justru lebih dipentingkan karena dalam kondisi tersebut, maka kenaikan tidak akan terjadi secara signifikan dan transaksi jual beli di pasar bisa berjalan seperti biasa. Apalagi sebagian besar masyarakat sudah memiliki lemari es sehingga daging dapat disimpan hingga seminggu ke depan dan mereka dapat membeli saat harga sedang turun. Meski terjadi kenaikan, dalam sehari dia mengaku bisa menjual di atas 50 kilogram daging ayam kepada pembeli. “Kondisi seperti ini selalu terjadi menjelang lebaran sehingga pedagang dan pembeli tidak kaget menghadapinya,” jelasnya.

Masripah, 47, seorang pembeli mengakui jika kenaikan daging sapi dan ayam selalu menjadi fenomena yang terjadi menjelang lebaran. Selama kenaikan tersebut masih dalam batas yang wajar dan tidak memberatkan masyarakat, maka tidak menjadi masalah. Saat ini misalnya, kenaikan masih terjadi dibawah Rp 5.000 dan menurut dia kenaikan tersebut masih bisa ditolerir dan tidak menurunkan daya beli konsumen. “Asalkan stoknya mencukupi, naik tidak apa-apa karena daging sapi dan ayam sangat kami butuhkan,” pungkasnya. (gun/jpnn/ric)