PENDAMPINGAN: Pertemuan para napi anak dengan orang tuanya yang difasilitasi Yayasan Setara dan Unicef di Lapas Kedungpane, belum lama ini. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENDAMPINGAN: Pertemuan para napi anak dengan orang tuanya yang difasilitasi Yayasan Setara dan Unicef di Lapas Kedungpane, belum lama ini. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Keceriaan anak-anak di bawah umur ini terampas saat mereka tersandung kasus pidana. Mereka harus menghabiskan waktu di balik jeruji besi. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

TAK terbayangkan sebelumnya, anak-anak yang masih ingusan dan masa depannya masih panjang itu harus mendekam di sel penjara. Mereka terpaksa tersangkut masalah pidana, baik pencurian, penjambretan hingga perampokan.

Hari-harinya terkesan begitu kelam menjadi ”anak buangan”. Hak pendidikan untuk menggapai cita-citanya terpaksa terenggut. Keceriaan bermain layaknya anak seusianya berganti pemandangan kerasnya kehidupan penjara.

Namun hak-hak yang semestinya didapatkan oleh narapidana anak tersebut berusaha diperjuangkan oleh Yayasan Setara Semarang bekerja sama dengan Unicef dan pihak Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kedungpane Semarang. Sebanyak 28 narapidana anak dilakukan pendampingan untuk mendapatkan hak-hak sebagai anak bangsa yang tetap memiliki masa depan cerah.

Dalam kondisi keterbatasan, mereka tetap mampu melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah selama menjalani proses hukum. Berbagai kegiatan pendidikan, baik kesenian, menulis puisi, sastra, hingga pertunjukan teater diajarkan guna menggali kreativitas yang dimiliki narapidana anak tersebut.

Salah satu narapidana HB, 17, warga Kendal, dengan wajah ceria menyampaikan rasa terharu selama mendapatkan pendampingan tersebut. Bahkan ia bertekad menulis buku berjenis novel yang terinspirasi oleh tempaan masa kelam selama mendekam di balik jeruji besi.

”Saya bertekad menulis novel. Saat ini sudah dalam proses penulisan, berbekal kertas dan bolpoin,” kata HB kepada Jawa Pos Radar Semarang di Lapas Kedungpane usai acara pertemuan dengan orang tua didampingi Yayasan Setara Semarang, belum lama ini.

HB mengaku tak menyangka, kenapa bisa menjadi penghuni LP Kedungpane. Saat ini, ia menjalani proses hukuman selama 9 bulan karena tersangkut kasus perampokan. ”Itu masa lalu. Saya ingin kejadian tersebut menjadi pembelajaran yang paling bermakna sepanjang hidup saya,” ujarnya.

Selama menjalani proses hukum di penjara, HB mengaku sempat shock dan sulit menerima kenyataan tersebut. Namun lambat laun ia mengaku bisa menyesuaikan dengan kondisi. ”Setiap hari yang dilihat hanya ruangan pengap, jeruji besi, dan teman yang sama-sama tersangkut masalah pidana,” katanya.

HB menempati Blok G yang dikenal sangat ketat penjagaannya. Sebab, di blok tersebut rata-rata dihuni oleh narapidana yang dinilai kerap melakukan pelanggaran. ”Penghuni Blok G tidak bisa salat berjamaah di masjid. Sebab, harus menyesuaikan jadwal,” ujarnya.
Jika akan salat, penghuni Blok G harus melaksanakan di ruangan dengan peralatan seadanya. Namun demikian, hal itu dijalani HB dengan penuh kesabaran. ”Saya ingin menulis novel yang terinspirasi dari petualangan kelam,” katanya.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Setara, Hening Budiyawati, mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Unicef dan Lapas Kedungpane untuk memenuhi hak-hak narapidana anak yang menjalani proses hukuman. ”Kami melakukan pendampingan apa pun yang dibutuhkan anak-anak penghuni lapas. Kemudian melakukan kegiatan yang bertujuan menggali potensi anak-anak ini,” ujarnya.

Saat ini, di Lapas Kelas 1 Kedungpane Semarang ada sebanyak 28 anak. Namun yang aktif berkegiatan kurang lebih 20 anak. ”Kami berusaha memberi ruang kegiataan sesuai dengan bakat minatnya. Misalnya melukis, seni musik, menulis puisi, sastra dan lain-lain. Sejauh ini responnya bagus. Mereka menunjukkan kreativitas sesuai dengan apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan,” terangnya.

Kegiatan kali ini, lanjut Hening, pihaknya memfasilitasi dari pihak orang tua untuk menjenguk anak-anaknya yang sedang menjalani proses hukuman di Lapas Kedungpane Semarang. ”Selain di sini, kami juga melakukan pendampingan di Lapas Anak Kutoarjo,” katanya.

Kepala Seksi Bimkemas Lapas Kelas 1 Kedungpane, Ari Tris Octiyasari, mengatakan, kegiatan ini memiliki efek luar biasa. Di antaranya, mampu mengomunikasikan apa saja berkaitan dengan lapas seperti apa. ”Sahabat-sahabat anak di lapas bisa menjadi pribadi yang baru dan meninggalkan masa lalu. Mereka melakukan kegiatan positif dengan mengasah kreativitasnya,” ungkapnya.

Dikatakannya, kegiatan Yayasan Setara Semarang sangat selaras dengan program di Lapas Kedungpane. Di antaranya, layanan pembinaan kepribadian, keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, pembinaan keintelektual, pembinaaan seni dan budaya, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta melaksanakan kejar paket A, B, dan C secara gratis. ”Kami berharap orang tua mendorong agar anak-anak lapas yang belum menyelesaikan sekolah untuk mengikuti program tersebut,” harapnya.

Sebab, lanjutnya, warga binaan untuk bisa mendapatkan hak-haknya termasuk remisi, wajib mendapatkan nilai rapor minimal 7,5 dan berkelakuan baik. Pihaknya mengakui, sejauh ini, kendala Lapas Kedungpane mengalami over kapasitas. Sehingga pelayanan masih belum maksimal.

”Blok yang seharusnya dihuni oleh 530 narapidana diisi 1.530 narapidana. Blok Tipikor seharusnya ditempati 100 orang, dihuni 350 orang. Blok narkoba yang seharusnya ditempati 100 orang harus ditempati oleh 250 orang,” bebernya.

Hal itu membuat pihak lapas masih kewalahan melakukan pengawasan dan menerapkan program-program yang ada. ”Misalnya kuota masjid hanya memuat 300 orang jamaah, jelas tidak memungkinkan narapidana ribuan berjamaah di masjid secara berbarengan. Sudah kami atur sesuai penjadwalan,” terangnya.

Dijelaskannya, untuk Blok F, G, dan H memang memiliki aturan berbeda. Lebih ketat karena blok tersebut memang khusus. ”Blok tersebut tidak bisa salat berjamaah di masjid setiap saat, kecuali sesuai rolling dan penjadwalan. Namun setiap sel ada kamar mandinya, yang bisa dipakai untuk wudu. Salat secara pribadi bisa dilaksanakan di dalam sel,” katanya.

Sejauh ini, banyaknya kasus anak yang terlibat kriminalitas, membuat penghuni Lapas Kedungpane membeludak. ”Sebenarnya di Lapas Kedungpane bukan untuk narapidana anak. Biasanya kalau sudah inkrah, nanti akan dipindah ke Lapas Kutoarjo,” ujarnya. (*/aro/ce1)