NYARIS GAGAL UNAS : Tiga siswa SMPLB Muhammadiyah, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, nyaris gagal mengikuti Unas karena harus menginduk di SLBN Ungaran yang jaraknya 50 kilometer. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NYARIS GAGAL UNAS : Tiga siswa SMPLB Muhammadiyah, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, nyaris gagal mengikuti Unas karena harus menginduk di SLBN Ungaran yang jaraknya 50 kilometer. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SAKIT TETAP UNAS : Seorang peserta ujian sedang mengerjakan soal Unas di RSUD Salatiga. (Munir Abdillah/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SAKIT TETAP UNAS : Seorang peserta ujian sedang mengerjakan soal Unas di RSUD Salatiga. (Munir Abdillah/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Sebanyak 50 siswa SMPN 3 Banyubiru, Senin (4/5) kemarin tetap melaksanakan ujian nasional (Unas) di gedung sekolah yang sempat dikosongkan selama beberapa minggu akibat nyaris tertimbun tanah longsor dari tebing Bukit Gunung Kelir, di Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Sejumlah siswa pun terpaksa melaksanakan Unas dengan perasaan was-was.

“Tebing Gunung Kelir longsor hingga menyebabkan kerusakan pada musala dan fasilitas parkir sekolah, Selasa (21/4) lalu. Meski begitu, longsor kembali terjadi dan hanya menimbun tanggul serta saluran irigasi,” kata Kepala SMPN 3 Banyubiru, Purnomo.

Menurut Purnomo, Unas SMPN 3 Banyubiru sebenarnya akan dilaksanakan di gedung SDN 02 Wirogomo yang dijadikan lokasi pengungsian siswa SMPN 3 Banyubiru. Di SDN 02 Wirogomo itulah dijadikan tempat kegiatan belajar mengajar (KBM) sementara 166 siswa SMPN 3 Banyubiru. Namun karena ruang di SDN 02 Wirogomo tidak cukup untuk berbagi dengan siswa SDN 02 Wirogomo, sehingga diputuskan Unas dilaksanakan di sekolah sendiri.

“Pelaksanaan Unas hanya berlangsung empat hari dan menggunakan tiga ruang. Kami memilih ruangan yang lokasinya jauh dari titik longsor. Sehingga para peserta dapat melaksanakan Unas dengan nyaman, tidak terlalu was-was. Sekalipun demikian, kami tetap was-was terutama saat hujan deras,” imbuhnya.

Sementara itu tiga orang siswa SMPLB Muhammadiyah, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah nyaris gagal Unas SMP sederajat. Sebab sekolahnya belum mengantongi izin operasional. Sehingga tiga siswa SMPLB tersebut harus mengikuti Unas di Kota Ungaran yang jaraknya sekitar 50 kilometer. Tiga siswa tersebut melaksanakan Unas digabung dengan peserta Unas dari SLBN Ungaran.

“Jaraknya cukup jauh jadi kami berangkat dari Susukan pukul 05.30. Siswa kami nyaris gagal Unas, sebab mobil pribadi mengalami pecah ban di Sruwen. Sehingga tiga siswa dinaikan bus umum dari Sruwen,” kata Suyanto, Kepala SMPLB Muhammadiyah Susukan, di SLBN Ungaran, Senin (4/5) kemarin.

Beruntung ketiga siswa SMPLB tersebut Surotun, Beni Harmoko serta Ita Lestari bisa mengikuti pelaksanaan Unas dihari pertama, kendati sampai di sekolah Unas sudah dimulai. “Masih ada waktu bagi mereka, karena baru berjalan beberapa menit,” tutur Kepala SLBN Ungaran, Asngari.

Peserta Unas di SLBN Ungaran hanya ada empat siswa penyandang tunarungu/ tunawicara. Tiga orang di antaranya merupakan peserta dari SMPLB Muhammadiyah Susukan. Sedangkan pelaksanaan ujian sekolah diikuti oleh 12 orang siswa SLBN Ungaran dan seorang peserta dari SMPLB Susukan.

Sementara itu, satu siswa SMP Islam Raden Paku Salatiga bernama Muhammad Aunurrohman terpaksa mengerjakan ujian di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Salatiga, karena masih dalam proses penyembuhan, pascakecelakaan motor di Pulutan.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda Dan Olahraga (Disdikpora) Kota Salatiga, Gati Setiti mengatakan bahwa pelaksanaan Unas SMP/MTS diharapkan dapat menjamin kejujuran, sehingga Salatiga menjadi kota terjujur dalam pelaksanaa Unas. “Semoga seperti kemarin Unas SMA/SMK, menjadi yang terjujur,” ungkapnya.

Wakil Wali Kota Salatiga, Muh Haris, saat menjenguk salah satu peserta ujian di RSUD mengatakan bahwa Unas harus bisa menjadi motivasi belajar bagi anak. Meskipun sakit, tapi harus dijalani. “Saya berharap Salatiga masuk ke dalam sepuluh nilai Unas terbaik di Indonesia,” pungkas Haris.

Sedangkan Ketua DPRD Salatiga, Teddy Sulistyo menilai pelaksanaan Unas masih perlu dilakukan pembenahan. “Unas sampai sekarang masih menjadi momok yang menakutkan bagi anak-anak,” katanya. (tyo/abd/ida)