KENA SEMPROT : Kades Tengengkulon, Rasijo (Kiri) hanya meringis usai ditegur Wakil Bupati Pekalongan, Fadia A Rafiq terkait keberadaan warga putus sekolah. (FAIZ URHANUL HILAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KENA SEMPROT : Kades Tengengkulon, Rasijo (Kiri) hanya meringis usai ditegur Wakil Bupati Pekalongan, Fadia A Rafiq terkait keberadaan warga putus sekolah. (FAIZ URHANUL HILAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KENA SEMPROT : Kades Tengengkulon, Rasijo (Kiri) hanya meringis usai ditegur Wakil Bupati Pekalongan, Fadia A Rafiq terkait keberadaan warga putus sekolah. (FAIZ URHANUL HILAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Wakil Bupati (Wabup) Pekalongan, Fadia A Rafiq kecewa ketika mendapati seorang pedagang mi ayam bernama Yesi Elizah, 18, putus sekolah lantaran tidak ada biaya. Apalagi lokasi berjualan Yesi berada persis di depan Balai Desa Tengengkulon, Kecamatan Siwalan.

“Bagaimana Pak Kades, ada warga sudah tiga tahun putus sekolah kok tidak diperhatikan,” tegur Fadia kepada Kepala Desa (Kades) Tengengkulon, Rasijo yang mendampinginya saat berkunjung ke desa tersebut, kemarin.

Mengetahui hal itu, Fadia meminta kades segera bertindak. Melalui Camat Siwalan, yang juga berada di lokasi, Fadia meminta biodata Yesi yang direncanakan akan diikutkan kejar paket C. Yesi diketahui merupakan warga Desa Tegalontar, RT 01 RW 10 Kecamatan Siwalan.
“‎Pak Camat harus bantu. Dikoordinasikan dengan kades setempat. Biodatanya dikirimkan ke saya, nanti saya bantu biar bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi,” imbuhnya.

Kades Tengengkulon, Rasijo mengaku tidak mengetahui pedagang tersebut putus sekolah. Dirinya hanya mengetahui bahwa pedagang yang masih berusia 18 tahun itu meminta izin untuk berjualan. “Saya tidak tahu kalau ternyata putus sekolah. Saat itu cuma minta izin berjualan, saya izinkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Yesi mengatakan bahwa dirinya memang ingin sekali melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. “Kalau melanjutkan sekolah inginnya SMK, biar mudah dapat kerja,” kata gadis yang bercita-cita menjadi dokter itu.

Ayah kandung Yesi, ‎Darpari, 48, mengaku karena keterbatasan biaya, anak ketiga dari empat bersaudara itu putus sekolah. “Anak saya itu (Yesi, red) memang maunya melanjutkan sekolah. Tapi saya hanya jualan es cendol keliling. Hasilnya tidak mencukupi untuk biaya sekolah,” ungkapnya.

Darpari menambahkan, dari empat anaknya, hanya adik Yesi, yang kini masih mengenyam pendidikan formal. “Dua kakaknya (Yesi, red) juga sudah nggak sekolah, sekarang kerja jadi penjual tempe. Mereka juga hanya sampai SMP. Lalu adiknya, sekarang kelas 6 SD,” kata Darpari. (hil/ida)