PENUHI PANGGILAN: Harini batal diperiksa karena Ketua tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang sedang sakit. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENUHI PANGGILAN: Harini batal diperiksa karena Ketua tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang sedang sakit. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENUHI PANGGILAN: Harini batal diperiksa karena Ketua tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang sedang sakit. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KALIBANTENG – Pemeriksaan terhadap tersangka kasus dugaan korupsi dana penyelenggaraan Semarang Pesona Asia (SPA) tahun 2007, Harini Krisnati lagi-lagi batal. Pemeriksaan yang mestinya dilakukan Senin (20/4) terpaksa batal lantaran Ketua tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, Dadang Suryawan diketahui sedang sakit. Padahal dalam agenda pemeriksaan itu, Harini sudah hadir di kantor Kejari Semarang.

Sebelumnya pemeriksaan batal, karena berdasarkan pemeriksaan medis Harini dinyatakan tidak memungkinkan untuk diperiksa. Harini juga diberikan waktu istirahat selama 2 hari. Bahkan Harini sempat diperiksa dinyatakan mentalnya terganggu akibat sakit vertigo.

Kepala Kejari Semarang, Asep Nana Mulyana melalui Kasi Tipidsus, Sutrisno Margi Utomo mengatakan, Harini terpaksa harus pulang, karena pemeriksaan batal dilakukan. Harini datang sendiri dan langsung masuk ruang penyidik sekitar pukul 10.00. ”Tapi karena Pak Dadang sakit dan katanya nggak masuk, akhirnya beliau (Harini) pulang lagi,” kata Sutrisno.

Sutrisno menambahkan, karena tersangka Harini sudah sehat, maka pemeriksaan bakal dijadwalkan ulang, sambil menunggu ketua tim penyidik sehat. ”Kalau Pak Dadang sudah sehat, nanti dihubungi supaya dihadirkan. Beliau (Harini) masih dibutuhkan keterangannya untuk klarifikasi soal bukti-bukti,” imbuhnya.

Penasihat hukum Harini, Soewidji menjelaskan, BPKP belum menyatakan ada kerugian negara karena perhitungan kerugian negara atas kliennya belum selesai. ”Nanti kalau penetapan (kerugian negara) BPKP menyimpang dari ketentuan, saya gugat. Seperti kasus Thoriq dulu, kan kasus itu saya juga yang menangani, dalam gugatan itu saya menang,” kata Soewidji.

Soewidji menambahkan, kliennya sebelumnya berperan menjadi sekretaris dalam kegiatan SPA. ”Dia (Harini) hanya dicantoli duit kegiatan, jadi peranya seperti kasir saja, pelaksana kegiatannya sudah ada sendiri,” sebutnya.

Ia menegaskan, berdasarkan dari hasil pemeriksaan BPK menyatakan tidak ada kerugian. ”Barangkali administrasi memang ada yang nggak pas. Sementara rekening yang digunakan adalah rekening panitia atas nama Harini,” ujarnya.

Seperti diketahui, Penyidik menjerat tersangka, Dra Harini dengan primer melanggar Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 UU nomor 31/ 1999 sebagaimana diubah UU nomor 20/ 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan subsider Pasal 3. (bj/fth/ce1)