BERBAGI: Dwi Titik, salah satu volunteer Komunitas Pagi Berbagi. (kanan) Salah satu volunteer saat membagikan nasi kepada penyapu jalanan. (Dok. komunitas pagi berbagi)
BERBAGI: Dwi Titik, salah satu volunteer Komunitas Pagi Berbagi. (kanan) Salah satu volunteer saat membagikan nasi kepada penyapu jalanan. (Dok. komunitas pagi berbagi)
BERBAGI: Dwi Titik, salah satu volunteer Komunitas Pagi Berbagi. (kanan) Salah satu volunteer saat membagikan nasi kepada penyapu jalanan. (Dok. komunitas pagi berbagi)

boks2WEB

Berawal dari melihat orang yang belum sarapan tetapi sudah pergi bekerja, tebersit keinginan untuk membantu mereka yang bekerja di lapangan. Itulah yang melatarbelakangi hadirnya komunitas yang membagikan sarapan kepada para penantang pagi ini. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

SETIAP Minggu pukul 06.00 pagi, Dwi Titik, staf laboratorium di Universitas Diponegoro (Undip) menelusuri jalanan Kota Semarang. Bersama rekan-rekan sesama volunteer di Komunitas Pagi Berbagi, Dwi ngider sarapan atau membagikan nasi sarapan kepada para pekerja di sepanjang jalan.

Berawal dari Taman Gajahmungkur, mereka mempersiapkan semua kebutuhan. Lalu, dengan mengendarai beberapa sepeda motor, mereka membagikan sarapan kepada penyapu jalan, loper koran, pemulung, dan kaum dhuafa di sejumlah jalan protokol Kota Semarang. Di antaranya, Jalan Pemuda, Jalan Imam Bonjol, Jalan Dr Sutomo Kalisari, dan kawasan Johar. Selain itu, sepanjang Jalan Pamularsih, Ngaliyan, Lamper Tengah, Jalan Majapahit dan masih banyak lainnya.

Komunitas ini beranggotakan 25 hingga 30 orang. Mereka berasal dari beragam profesi. Membagikan sarapan menjadi kegiatan utamanya. Sejak Dwi mengikuti komunitas ini pada 2012, terdapat sedikit perubahan dalam pembagian sarapan. Di antaranya, pembagian yang awalnya membagikan nasi dalam boks/kotak, kini diubah menjadi nasi bungkus dengan air mineral.

”Dulu kami membagikan nasi kotak/kardus gitu Mas, tapi karena banyak dari kami yang membawa sepeda motor kesusahan membawa nasi kotak segitu banyaknya, akhirnya kami menggunakan nasi bungkus dan air mineral yang dibungkus plastik. Lebih simpel dan memudahkan pergerakan kita juga. Tapi isinya kurang lebih sama,” tutur Dwi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain membagikan nasi bungkus kepada para pekerja jalanan, komunintas ini memiliki kegiatan lain yang mereka sebut Wisata Impian. Berupa kegiatan motivasi untuk menggapai mimpi dengan mengajak anak-anak panti asuhan berkunjung ke bandara, stasiun televisi, maupun ke tempat di mana terdapat profesi yang menginspirasi.

Dengan melihat bagaimana seorang pilot, wartawan maupun profesi lainnya bekerja, diharapkan mampu membuat mereka labih bersemangat dalam usaha menggapai cita-cita.

”Selain Wisata Impian yang digelar setiap tahun, ada satu lagi, yakni Dongeng Anak. Dongeng Anak itu sebuah cerita yang memotivasi anak-anak bagaimana untuk mengejar cita-cita sesuai kondisi mereka. Meski misalnya tanpa orang tua,” ungkap Dwi.

Diakuinya, bangun di pagi hari menjadi tantangan tersendiri bagi komunitas pagi berbagi dalam menjalankan aksinya. Selain itu, musim hujan kerap kali membuat mereka tidak menemui para pekerja jalanan. Hal itu membuat Dwi dan rekan-rekannya harus memasuki kampung demi kampung untuk membagikan nasi bungkusnya. Bagaimanapun, nasi yang mereka siapkan harus habis dan jatuh di tangan mereka yang benar-benar membutuhkan.

Ditambahkan Dwi, selama mengikuti kegiatan komunitas yang diprakarsai oleh Landhes Manuhara ini, Dwi merasakan dirinya lebih dapat menghargai hidup. Ia menyadari bahwa di bawahnya masih banyak orang yang lebih membutuhkan. Kegiatan inilah yang mempu mengingatkan Dwi untuk senantiasa bersyukur.

”Membuka hati ya pastinya, karena seringkali kami bisa ngobrol dengan para pekerja jalanan. Kami tahu berapa jumlah pendapatan mereka dengan pekerjaan yang menurut saya lumayan berat. Ini yang membuat kami merasa harus lebih bersyukur,” tambahnya.

Komunitas yang menjaring anggota melalui broadcast di media sosial ini mendapatkan dana operasional dari para donatur. Setidaknya, mereka berkomitmen untuk tidak hanya memberikan sarapan, berfoto, kemudian pergi. Mereka ingin menjadi pendengar segala keluhan dan dapat melakukan sharing bersama para pekerja jalanan. Hal ini juga yang seringkali membuat para pelajar, guru, hingga dosen yang tergabung dalam komunitas ini harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk membagikan sarapan.
”Secara rutin setiap pekannya, kami selalu berbagi kepada sesama dengan semangat: Berbagi and then, Lancar Rezeki,” katanya. (*/aro/ce1)