SALATIGA – Institut Agama Islam negeri (IAIN) Salatiga hari ini, akan diresmikan Menteri Agama Republik Indonesia, H. Lukman Hakim Syaifudin. Peresmian menjadi puncak rangkaian kegiatan perubahan status STAIN menjadi IAIN Salatiga.

Rektor IAIN Salatiga, DR Rahmat Hariyadi menuturkan, perubahan bentuk STAIN menjadi IAIN Salatiga, merupakan berkah yang sangat besar bagi berbagai pihak. Sivitas akademika IAIN Salatiga, yang bernaung di bawah lembaga pendidikan dengan bentuk institut, dengan tentu merasa lebih percaya diri dibanding ketika masih disebut sekolah tinggi. “Kedua, dengan perubahan bentuk yang disertai dengan perluasan mandat, kepercayaan masyarakat serta seluruh stake holder lainnya terhadap institusi ini akan meningkat,” katanya, kemarin.

Ia menambahkan, bagi masyarakat dan pemerintah Kota Salatiga, perubahan bentuk akan memberikan ruang partisipasi yang lebih luas bagi upaya mewujudkan Salatiga sebagai kota Pendidikan. Apabila saat ini jumlah mahasiswa kita 5042 mahasiswa, maka diharapkan dalam waktu empat tahun yang akan datang telah mendekati angka 10.000 orang.

Hal ini tentunya akan membawa multiplyer effect, dalam ekonomi maupun dalam upaya mendorong mobilitas sosial masyarakat. Selain itudengan perubahan bentuk menjadi IAIN, akan dapat berkontribusi lebih luas bagi pengembangan kehidupan keagamaan Indonesia.

“Kami berkomitmen untuk mengembangkan dan mengawal Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin, moderat, dan toleran. Komitmen ini kami tuangkan dalam Visi IAIN Salatiga, yaitu: Tahun 2030 Menjadi Rujukan Studi Islam Indonesia bagi Terwujudnya Masyarakat Damai Bermartabat,” imbuhnya.

Rahmat menambahkan, bahwa IAIN Salatiga telah melewati sejarah yang panjang. IAIN Salatiga, pada mulanya merupakan rintisan perguruan tinggi Islam swasta yang didirikan para alim-ulama tahun 1968, bernama Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) “Nahdlatul Ulama” di Salatiga. Lembaga ini menempati gedung milik Yayasan Pesantren Luhur, yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 64 Salatiga.

Dalam rentang waktu kurang dari setahun, lembaga ini berubah nama yang semula FIP-IKIP menjadi Fakultas Tarbiyah. Dalam waktu yang bersamaan dengan proses pendirian IAIN Walisongo Jawa Tengah di Semarang, Fakultas Tarbiyah Salatiga diusulkan untuk dinegerikan sebagai cabang IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Setelah dilakukan peninjauan oleh Tim Peninjau yang dibentuk IAIN Sunan Kalijaga, akhirnya pembinaan dan pengawasan Fakultas Tarbiyah Salatiga diserahkan kepada IAIN Walisongo Semarang.

Pada saat berdiri, jumlah dosen hanya tujuh orang, dengan mahasiswa tidak lebih 30 orang. Adapun tempat kuliah menumpang pada gedung Yayasan Pesantren Luhur, di Jalan Diponegoro Salatiga. Buah dari perjuangan tersebut, mulai nampak ketika pada tahun 1984 Fak. Tarbiyah IAIN Salatiga mulai menempati kampus sendiri di lokasi ini. Pada tahun 1987 tercatat sejumlah 30 orang dosen, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 940 orang.

Selanjutnya, pada tahun 1997, melalui Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1997, Fakultas Tarbiyah IAIN Salatiga berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam negeri (STAIN) Salatiga. Pada saat ini baru memiliki dua Program Studi S-1, yaitu Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan bahasa Arab, dan Program Diploma 2 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Tahun 2010, di akhir periode pertama kepemimpinan Dr. Imam Sutomo, M.Ag, dapat dikatakan merupakan pemancangan tonggak bagi perubahan STAIN menjadi IAIN. Pada tahun ini dimulailah langkah maju, yaitu: (1) membuka berbagai program studi, (2) merekrut sebanyak mungkin mahasiswa, (3) mendorong dosen kuliah dengan memberikan bea siswa, dan (4) meminta izin lokasi pembangunan kampus terpadu kepada pemerintah Kota, dan mulai membeli tanah warga pada lokasi tersebut.

STAIN Salatiga juga berusaha membuat prestasi dan inovasi yang dengan harapan dapat “dilirik” oleh Kementerian Agama. Prestasi dan inovasi tersebut antara lain, berhasil memiliki 3 (tiga) jurnal ilmiah terakreditasi, mengembangkan kelas internasional, memperbanyak kerja sama luar negeri dan mengirim dosen ke luar negeri.

Melalui upaya ini, maka pada tahun 2013, STAIN Salatiga, merupakan salah satu di antara 16 (enambelas) STAIN se Indonesia yang diminta mempresentasikan proposal alih status menjadi IAIN. Dari 16 STAIN tersebut, pada akhirnya diambil 10, di mana STAIN Salatiga menjadi salah satu diantaranya untuk diubah menjadi IAIN Salatiga yang tertuang dalam Peraturan Presiden RI Nomor 143 Tahun 2014, tanggal 17 Oktober 2014.

Untuk menandai transformasi 13 perguruan tinggi Islam negeri (10 IAIN dan 3 UIN), Presiden Joko Widodo melakukan peresmian (launching) di Istana Negara pada Jum’at, 19 Desember 2014.

Kampus terpadu akan menempati area seluas kurang lebih 14 hektar yang dibebaskan melalui anggaran Kementerian Agama, dan insya-Allah ditambah 4 hektar tanah milik Pemkot Salatiga. (adv/sas/fth)