GARA-GARA LAGU: Joko Suyanto, 30, hanya tertunduk saat dimintai keterangan oleh Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono, di Mapolrestabes Semarang. (JPNN)
GARA-GARA LAGU: Joko Suyanto, 30, hanya tertunduk saat dimintai keterangan oleh Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono, di Mapolrestabes Semarang. (JPNN)
GARA-GARA LAGU: Joko Suyanto, 30, hanya tertunduk saat dimintai keterangan oleh Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono, di Mapolrestabes Semarang. (JPNN)

SEMARANG – Kebrutalan Joko Suyanto, 30, yang membabat tiga orang dengan menggunakan samurai berbuntut panjang. Warga Kampung Jatimulyo RT 04 RW 05, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di sel tahanan Mapolrestabes Semarang. Tersangka dibekuk Unit Resmob Polrestabes Semarang di rumah kos yang ada di daerah Semarang Utara.

Dalam aksi brutal Joko yang dilakukan pada Selasa (10/3), sekitar pukul 00.30, tersebut, tiga korban mengalami sejumlah luka bacok di bagian tubuh. Satu korban bernama Slamet Iriyanto, 52, warga Muktiharjo, Pedurungan, Kota Semarang, yang mengalami luka serius pada tangan kiri dan hampir putus. Sementara dua korban lainnya, Agus Setiyono, 42, warga Kampung Malang, Purwodinatan Semarang Tengah, harus menderita luka bacok di bagian kepala, dan Pramono, 45, warga Kampung Sumeneban, Kelurahan Kauman, Semarang Tengah, menderita luka bacok pada bagian pipi, hidung serta tangan kiri.

Aksi tersebut dilatarbelakangi masalah sepele, yakni rebutan lagu antara korban dan tersangka. Saat itu kedua belah pihak sama-sama memesan lagu kepada penyanyi dangdut jalanan di Polder Tawang, Semarang Utara. Namun yang ada justru kedua belah pihak saling cekcok lantaran ingin lagu pesanan masing-masing dinyanyikan lebih dahulu.

Joko mengaku, mulanya ia bersama dua temannya, Yono dan Dimas memesan lagu kepada seorang penyanyi dangdut itu. Belum sempat lagu pesanannya dinyanyikan, datang korban bersama sepuluh rekannya yang juga memesan lagu. ”Kami bertiga dagang dulu dan pesan lebih dulu. Lalu mereka datang dan seenaknya minta lagu pesanannya dinyanyikan duluan,” ujarnya saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Rabu (11/3).

Hal itu membuat Joko dan dua temannya tidak terima. Hingga akhirnya Yono dan Dimas terlibat perselisihan dan adu mulut dengan korban (Pramono dan Agus, Red). Melihat perselisihan yang diselingi perkelahian tersebut membuat Joko berang. Ia kemudian berlari ke sebuah gudang tua dan mengambil sebilah samurai sepanjang 60 sentimeter.

Setelah kembali ke lokasi, Joko yang pada saat kejadian sedang mabuk langsung membabatkan samurai ke arah Pramono dan Agus. Tidak hanya itu, Slamet yang pada saat kejadian hanya diam diri juga terkena imbasnya. Sabetan samurai mengenai tangannya hingga hampir putus. ”Korban sempat menangkis pakai tangan kiri. Setelah membacok saya pulang ke kos,” ujar Joko yang saban harinya bekerja sebagai buruh tersebut.

Aparat kepolisian yang menerima laporan dari korban langsung bergerak cepat. Hasilnya, tim Resmob yang dipimpin oleh Kanit Resmob, AKP Kadek Adi, dan Aiptu Toni Hendro dapat meringkus tersangka di tempat kosnya. ”Tersangka kami tangkap di tempat kos. Dari pengakuannya, motif penganiayaan tersebut karena rebutan lagu,” kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono, kermarin.

Djihartono menjelaskan, dari rebutan lagu tersebut kemudian terjadi perselisihan hingga tersangka melakukan pembacokan. Tersangka dijerat dengan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Ancaman hukumannya lima tahun penjara.
”Satu tersangka. Dua temannya (Yono dan Dimas, Red) statusnya masih sebagai saksi. Ini kami amankan barang bukti berupa samurai,” pungkasnya. (har/jpnn/zal/ce1)