JATI ILEGAL: Kapolsek Ngaliyan, Kompol B Suprihatin saat menginterogasi tersangka Sugiyono. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
JATI ILEGAL: Kapolsek Ngaliyan, Kompol B Suprihatin saat menginterogasi tersangka Sugiyono. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
JATI ILEGAL: Kapolsek Ngaliyan, Kompol B Suprihatin saat menginterogasi tersangka Sugiyono. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

NGALIYAN – Sugiyono, 57, warga Kelurahan Ngadirejo, Mijen, Kota Semarang ditetapkan sebagai tersangka kasus ilegal logging. Ia menggunakan dua mobil, yakni pikap dan truk untuk menyelundupkan 132 batang kayu jati gelondongan ilegal. Kayu jati tersebut berasal dari wilayah hutan Mijen, Semarang, dan hutan petak 61 D Blok Kaliblorong, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kedungpane, Semarang. Pelaku mencampur atau mengoplos kayu dari dua hutan tersebut.

“Tersangka mengelabui petugas dengan cara memalsukan sejumlah dokumen,” ungkap Kapolsek Ngaliyan, Kompol B Suprihatin di Mapolsek Ngaliyan, Jumat (6/3).

Dijelaskannya, penyelundupan kayu jati tersebut dipergoki oleh dua petugas dari Polsek Ngaliyan, yakni Brigadir Mories Hendrike dan Brigadir Tri Susanto, pada Minggu (1/2) lalu, di Jalan Perum Beringin Barat, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Semarang.

Kedua petugas mencurigai sebuah truk Hino berwarna hijau bernopol H-1775-BQ, dan sebuah mobil pikap Mitsubishi hitam bernopol H-1816-JS, membawa muatan mencurigakan. Dua mobil tersebut diketahui mengangkut kayu jati gelondongan.

Diketahui pembawa mobil itu adalah orang suruhan tersangka Sugiyono. Sedianya, kayu jati yang rata-rata memiliki panjang 40 sentimeter sampai 2 meter dengan diameter 10 sentimeter sampai 29 sentimeter itu hendak dikirim ke Sengon, Subah, Batang.

Saat diperiksa, lanjutnya, diketahui Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) dan Daftar Kayu Bulat (DKB) yang diterbitkan oleh Dinas Pertanian Kota Semarang, ternyata dipalsukan.

“Pemalsuan dilakukan dengan memperpanjang masa berlaku. SKAU yang hanya berlaku satu hari itu, tanggal masa berlakunya diganti 1 Februari 2015 – 2 Februari 2015 dengan ditempel pada kertas yang sama warnanya, yakni hijau,” terang kapolsek.

Surat yang dipalsukan berupa surat keterangan asal usul menunjukkan asal usul kayu yang diambil dari hutan rakyat.

“Kayu Perhutani dicampur dengan kayu hutan rakyat untuk menyamarkan kayu milik pemerintah yang ditanam pada tahun 1988 tersebut. Kami sudah meminta keterangan saksi ahli dari Perum Perhutani dan menyatakan adanya kecocokan kayu yang diangkut dengan kayu yang ditebang di hutan,” katanya.

Pihaknya juga telah memeriksa sebanyak 23 saksi dan menyita sejumlah dokumen untuk proses hukum lebih lanjut.

Tersangka Sugiyono mengaku mendapat kayu-kayu tersebut dengan cara membeli dari warga. Dia berdalih, kayu tersebut memiliki surat-surat dari warga yang menjual kayu jati.

“Saya beli kayu dari warga yang memiliki tanah pemajakan. Ada surat-suratnya. Tapi saya juga memalsukan surat dari Dinas Pertanian Kota Semarang agar biaya operasional bisa ditekan,” ujarnya.

Saat ini, pihak Polsek Ngaliyan telah menitipkan barang bukti ke Perum Perhutani, karena lahan kosong di mapolsek tak bisa menampung semua barang bukti.

Tersangka sendiri dijerat dengan pasal 12 huruf e jo pasal 83 ayat 91 huruf a dan atau b UU 18/2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan, dan atau pasal 263 KUHP. (amu/aro)