MENU BEDA: Sejumlah pengunjung sedang menikmati menu kuliner berbahan jamur di Kafe Acasta kemarin. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
MENU BEDA: Sejumlah pengunjung sedang menikmati menu kuliner berbahan jamur di Kafe Acasta kemarin. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
MENU BEDA: Sejumlah pengunjung sedang menikmati menu kuliner berbahan jamur di Kafe Acasta kemarin. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

TEMBALANG – Duo Sari Kartika dan Indra Hidayat telah meramaikan pilihan menu unik di Semarang. Mereka membuka Kafe Acasta yang menawarkan berbagai olahan dari jamur. Menu yang ditawarkan Acasta memang terbilang standar. Sebut saja rendang, gongso, steak, hingga tongseng jamur. Tapi, jangan harap bisa menemukan seonggok daging di sana. Semua sajian meski berlabel menu-menu sarat daging, tetap saja menggunakan jamur sebagai bahan utamanya.

“Kami coba membalik makanan-makanan konvesional. Memang sengaja menggangkat makanan yang jadi pendamping. Misalnya, di steak, jamur hanya sebagai pelengkap. Tapi di sini, justru jadi yang utama,” ungkap Sari.

Awalnya, lanjut Sari, niatnya menyediakan konsumen yang memang menghindari olahan daging. Entah sedang diet kolesterol atau vegetarian. Tapi, karena animonya begitu hebat, akhirnya malah dipertahankan, bahkan dikembangkan.

Kini kafe yang resmi berdiri 9 Februari 2014 itu menawarkan menu dari dua daerah, Indonesia dan western. Ada steak, spaghetti, tongeseng, asam manis, nasi goreng, dan lain sebagainya. Soal harga, sesuai dengan kantong mahasiswa.

“Sebenarnya kami menyasar untuk kalangan keluarga. Eh, yang datang malah rata-rata mahasiswa dan pelajar. Mungkin karena harganya yang kurang mahal kali, ya. Cuma dari Rp 7.000-an,” ungkapnya sambil tertawa.

Sari menjamin varian jamur yang ditawarkan seperti tiram, kancing, dan kuping, selalu fresh. Saban hari, dia mengambil dari petani sekitar lima hingga depalan kg. Pasalnya, jamur tidak bisa bertahan lama. Sehari saja sudah layu. Jika menggunakan sistem stok, pasti tidak akan enak.

Rencananya, Sari ingin memperkaya buku menunya dengan steak blackpapaer dan oseng-oseng. “Kemarin sempat ada nugget dan resoles. Tapi karena hanya beberapa pelanggan saja yang pesan, jadi sengaja dikeluarkan dari daftar menu,” katanya.

Amel, salah satu pelangan yang masih duduk di bangku SMA mengaku kepincut Acasta karena rasanya. Menurutnya, jamur yang disajikan sangat berbeda dengan jamur-jamur krispi yang dulu sempat ngetren. “Rasanya beda banget. Yang ini lebih lembut dan gurih. Hampir saban Jumat saya sama teman-teman mampir ke sini setiap pulang sekolah. Tempatnya asyik dan nyaman. Terasa adem meski cuaca panas,” ungkapnya. (amh/aro)