PROTES: Warga dan Pedagang melakukan aksi demo ke Kantor Pasar Pegandon akibat bau sampah yang menumpuk. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
PROTES: Warga dan Pedagang melakukan aksi demo ke Kantor Pasar Pegandon akibat bau sampah yang menumpuk. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
PROTES: Warga dan Pedagang melakukan aksi demo ke Kantor Pasar Pegandon akibat bau sampah yang menumpuk. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL – Puluhan warga dan pedagang Pasar Pegandon Kendal menggruduk kantor pengelola pasar setempat. Mereka memprotes pengelola pasar atas pengelolaan sampah pasar. Pasalnya, sampah pasar menumpuk berhari-hari dan tidak diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kondisi itu jelas mengakibatkan lingkungan pasar dan pemukiman warga di sekitar pasar menjadi kumuh. Selain itu, warga juga mengeluhkan bau busuk yang timbul dar timbunan sampah yang menyebar hingga pemukiman warga.

Warga memprotres pengelola agar sampah-sampah pasar segera diangkut lantaran menyebabkan lingkungan warga kumuh. Sedangkan para pedagang memprotes pengelola pasar lantaran merasa sudah membayar iuran retribusi pasar untuk kebersihan.

Awalnya aksi protes warga Desa Penanggulan Kecamatan Pegandon ini berlangsung damai dengan membawa poster tuntutan. Tapi lantaran tidak ada tanggapan dari kepala pasar, warga menjadi berang.

Sempat terjadi adu mulut antara masa pendemo dengan pengelola pasar. Sebab warga dan pedagang yang ingin masuk ke kantor pengelola pasar dihalang-halangi oleh petugas pasar. Sempat terjadi aksi saling dorong.

Tak cukup dengan aksi saling dorong, warga dan pedagang sudah tersulut amarahnya kemudian mengangkut gerobak berisi sampah-smpah yang busuk ke depan kantor pengelola pasar. Gerobak berserta muatan sampah tersebut dilempar warga tepat di depan pintu masuk kantor pengelola pasar.

Kordinator aksi dari Forum Pemuda Pemudi Belakang Pasar atau FPP Belpas Pegandon, Rasto kemarahan warga dan pedagang lantaran menurutnya tidak ada itikad baik untuk dari pengelola pasar membersihkan sampah khususnya di belakang pasar. “Sampah dibiarkan menumpuk hingga bermingguu-minggu sehingga menimbulkan bau busuk. Warga khawatir tumpukan sampah yang bau dan kotor ini menimbulkan berbagai macam penyakit seperti diare, TBC hingga gangguan pernafasan,” katanya.

Akhirudin, warga sekitar pasar Pegandon juga meminta agar pengelola pasar segera membersihkan sampah yang sudah menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap. “Saya meminta setiap hari dibersihkan dan pengelola pasar tidak lagi menumpuknya di belakang pasar melainkan menyediakan kontainer di depan pasar,” imbuhnya.

Keluhan lain juga dari pedagang yang berjualan di belakang pasar, Mustafiah. Menurutnya, sampah yang menumpuk sangat menganggu dan mengakibatkan banyak pembeli enggan masuk pasar. “Sampahnya sudah hampir seminggu tidak diangkut baunya busuk jadi banyak pembeli tidak mau mampir ke lapak dagangan saya. Sebab, lapak saya berada dekat dengan tumpukan sampah,” tambahnya.

Kepala Desa Penanggulan Ria Setianingsih mengatakan, warga sudah kecewa dengan pengelola pasar dan bau sampah yang tidak sedap. “Apalagi sekarang musim hujan sampah cepat membusuk dan baunya dikeluhkan warga,” katanya.
Setelah bernegosiasi, pihak pengelola pasar akhirnya bersedia menandatangani kesepakatan untuk sampah tidak lagi dibuang dibelakang pasar. Sampah harus diangkut minimal dua hari sekali. (bud/fth)