PELATIHAN : Fasilisator USAID Prioritas Jawa Tengah, Saminanto saat memberikan game dalam pelatihan manajemen berbasis sekolah di Hotel Atria. (Ahsan fauzi/radar kedu)
PELATIHAN : Fasilisator USAID Prioritas Jawa Tengah, Saminanto saat memberikan game dalam pelatihan manajemen berbasis sekolah di Hotel Atria. (Ahsan fauzi/radar kedu)
PELATIHAN : Fasilisator USAID Prioritas Jawa Tengah, Saminanto saat memberikan game dalam pelatihan manajemen berbasis sekolah di Hotel Atria. (Ahsan fauzi/radar kedu)

MAGELANG- Apabila ingin menghasilkan anak didik yang bisa beradaptasi dengan dunia modern, sekolah dituntut bisa mengelola dengan baik isu-isu kontekstual dan tuntutan kebutuhan-kebutuhan riil masyarakat yang mengitarinya.

Namun yang lebih penting, para dosen pencetak para guru yang mengajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) bisa lebih mengetahui dan terampil mengelola isu tersebut dibanding dengan para guru.

Demikian disampaikan Afifudidin, fasilitator USAID Prioritas Jawa Tengah di sela-sela pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untuk para dosen di Hotel Atria Magelang dua hari kemarin (17-18/2).

Pelatihan diikuti oleh 70 dosen dari delapan perguruan tinggi yakni Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, STAIN Pekalongan dan STAIN Purwokerto.

Menurut Afifuddin, dosen-dosen pencetak guru dituntut bisa menyiapkan calon guru yang memiliki kemampuan mengelola isu-issu aktual di sekolah.

“Pola-pola manajemen di sekolah musti juga diketahui oleh para dosen. Sepatutnya mereka tidak hanya mengajarkan mata pelajaran saja, seperti matematika, fisika, atau biologi. Mereka dituntut menstransfer pengetahuan mengelola sekolah dengan baik, supaya para calon guru ketika sampai di sekolah benar-benar ikut menangani berbagai isu kekinian yang melanda sekolah,” ujarnya.

Para dosen diajak mengidentifikasi berbagai peran kepala sekolah dalam pembelajaran aktif modern dan dalam berhubungan dengan masyarakat lewat komite sekolah.

Lanjut Afifuddin, selama dua hari tersebut, para dosen juga difasilitasi untuk memahami berbagai isu seputar sekolah yang lebih mutakhir. “Seperti isu kesadaran atau kesetaraan gender, serta didorong untuk bisa menanamkan budaya baca dan bisa melayani perbedaaan individu siswa,” tandasnya.

Sementara itu, dosen IAIN Purwokerto, Sunhaji menyampaikan setelah mendapat materi tentang MBS, akan disampaikan kepada dosen-dosen di lingkungan kampusnya.

“Para mahasiswa yang mau praktik pengalaman lapangan (PPL) dan kuliah kerja nyata (KKN), kita bekali terlebih dahulu dengan materi MBS,” paparnya dengan nada serius. (mg2/lis).