CURANG: Dua tersangka saat praktik menyuntik gas dari tabung 3 kg ke tabung 50 kg. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
CURANG: Dua tersangka saat praktik menyuntik gas dari tabung 3 kg ke tabung 50 kg. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
CURANG: Dua tersangka saat praktik menyuntik gas dari tabung 3 kg ke tabung 50 kg. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Praktik bisnis ilegal dengan modus memindah isi tabung gas elpiji bersubsidi ke tabung gas lain dengan cara disuntik, berhasil dibongkar aparat Reskrim Polrestabes Semarang. Sedikitnya lima warga ditangkap di tempat terpisah, dan telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka diketahui terbukti melakukan praktik bisnis haram tersebut.

Kelima tersangka adalah Agung Setiawan, 34, warga Randusari Semarang; Rozak Helmi Nugroho, 33, warga Jalan Untung Suropati Semarang; Istianah, 56, warga Gunungpati, Semarang, serta Agus Sutarto, 29, dan Supriyanto, 30, keduanya warga Genuk, Semarang.

”Mereka kami tangkap dari tiga lokasi terpisah, yakni Gunungpati, Kalipancur Ngaliyan, dan Genuk,” kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono, saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Selasa (10/2).

Dijelaskannya, ada dua modus dalam praktik suntik pemindahan isi tabung gas elpiji tersebut. Dua modus itu dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang dirangkai tersangka. ”Namun cara pemindahannya berbeda,” ungkap Djihartono.

Praktik curang ini selain menggunakan alat khusus, juga menggunakan es batu agar gas tersebut tidak meledak. Di antara tersangka, yakni Agung dan Rozak melakukan aksinya dengan menggunakan regulator rangkaian sendiri. Slang regulator di bagian tengah diberi cakram motor untuk mencegah slang geser. Selain itu juga untuk meminimalisasi kebocoran.

Dia memindah isi tabung gas subsidi 3 kg ke tabung gas 50 kg yang tidak bersubsidi. Dua ujung slang disambungkan ke tabung elpiji 3 kg dan 50 kg. Setelah ditekan, isi gas tabung 3 kg berpindah ke tabung 50 kg.

Djihartono mengatakan, para tersangka mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara curang dan melanggar hukum. Mereka menyuplai ke sejumlah rumah makan di Semarang.

”Kami menyita sebanyak 600 tabung elpiji berbagai ukuran mulai 3 kg, 12 kg, sampai 50 kg, dari tiga tempat terpisah,” katanya.

Tersangka Agung mengaku butuh sebanyak 17 tabung gas elpiji bersubsidi 3 kg untuk dipindah ke tabung elpiji 50 kg menggunakan alat tersebut. Keuntungannya cukup menggiurkan. Dalam sehari, ia mengaku meraup keuntungan Rp 900 ribu sampai Rp 1 juta. Jadi, penghasilan tersangka dalam sebulan kurang lebih Rp 30 juta. ”Satu tabung 50 kg saya untung Rp 300 ribu. Sehari kadang 3 sampai 4 tabung,” katanya.

Dia mengaku mempelajari cara menyuntik tabung dari menonton televisi. ”Baru 6 bulan terakhir melakukan praktik ini,” akunya.

Dia mengaku, tidak selalu berhasil saat memindahkan isi gas tersebut. Mereka pernah mengalami kecelakaan ketika memindahkan isi gas, yakni gas meledak hingga melukai kakinya.

Tersangka Istianah, Agus, dan Supriyanto mengaku melakukan aksinya dengan cara tidak jauh berbeda dari dua tersangka sebelumnya. Mereka memindahkan isi tabung gas 3 kg ke tabung 12 kg dengan regulator yang lebih kecil. Es batu juga digunakan saat memindahkan isi gas dengan meletakkannya mengelilingi regulator agar tetap dingin.

Atas perbuatannya, kelima tersangka dijerat pasal berlapis. Yakni, pasal 62 ayat (1) jo pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1998 tentang Metrologi Legal, dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan dengan ancaman hukuman pidana 5 tahun penjara. (amu/aro/ce1)