KENDAL – Seorang oknum wartawan mencoba melakukan penipuan terhadap pejabat di Kendal. Modusnya meminta bantuan dengan dalih untuk temannya yang sakit dan dirawat di rumah sakit Kariadi. Sang oknum mengaku bernama Budi dari “Radar Jawa Pos Pers”. Ia SMS kepada adalah Kasubdin Dinas Perhubungan, Wahyu Yusuf dengan menggunakan nomor 085231595071. “Awalnya berkenalan dan mengaku bernama Budi dari Radar Jawa Pos Pres. Saya tanggapi baik dengan membalas SMS,” kata Wahyu, Jumat (6/2).

Setelah itu, oknum itu kembali mengirim SMS dan minta bantuan seikhlasnya untuk membantu rekannya bernama Didik yang biaya operasi tumor otak di RS Dr Kariadi, Semarang. Di dalam SMS disebutkan agar uang ditransfer ke nomor rekening BCA 0331609748 atas nama Didik Purwanto. Karena sedang rapat, ia mengaku tidak sempat membalas SMS tersebut. “Selang 15 menit, orangnya kembali kirim SMS dan bertanya apakah sudah mentransfer uang atau belum. Saat dijawab belum, lantas ada SMS yang isinya marah-marah, memaki dan bahkan mengumpat. “Saya disebut sebagai antek-antek PKI, dan sejumlah umpatan bernada logat Jawa Timur,” akunya.

Curiga, ia lantas menghubungi wartawan Pokja Kendal untuk memastikan SMS tersebut. Kecurigaanya beralasan, karena ia mengaku sudah mengenal sebagian besar wartawan di Kendal. “Saat saya tanyakan ke wartawan yang lebih senior di Kendal ternyata SMS itu dari oknum wartawan yang ingin memeras dan menipu,” tambahnya.

Kabag Humas Pemkab Kendal, Heri Wasito mengaku banyak kejadian serupa dialami pejabat di Kendal. Modusnya sama dengan mengaku wartawan dan meminta bantuan. Ia meminta pejabat di Kendal agar berkoordinasi dengan bagian humas. “Sebab semua idenitas wartawan di Kendal, termasuk nomor HP ada di humas. Jika memang tidak terdaftar, maka jangan sekali-kali dilayani. Apalagi sampai meminta sejumlah uang, menurut saya itu jelas bukan wartawan. Jika toh wartawan, itu tidak beretika,” katanya.

Sebelumnya, ada sejumlah pejabat di Kendal yang mendapatkan SMS yang sama. Yakni Kabag Perekonomian Setda Kendal, Hasyim Trijoko yang mendapat SMS sama dari Budi yang mengaku wartawan Radar Jawa Pos. Tapi hal itu segera diselesaikan setelah Radar Semarang memberikan penjelasan. Pimpinan Redaksi Radar Semarang, Arif Riyanto menyesalkan tindakan oknum yang mengaku-aku sebagai Radar Jawa Pos. “Setiap awak media di Radar Semarang selalu dibekali dengan kartu pers. Selain itu dilarang meminta imbalan dalam bentuk apapun dari nara sumber,” katanya. (bud/fth)