SEMARANG – Jumlah penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah diketahui terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 lalu, jumlah penderita HIV tercatat sebanyak 1.352 orang dan penderita AIDS sebanyak 1.035 orang. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya dengan penderita HIV 1.045 orang dan penderita AIDS 993 orang.

”Kami asumsikan jumlah itu baru 22 persen dari kondisi sebenarnya. Sebab, masih banyak yang belum terdeteksi dan mau melapor,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo dalam Rapat Kerja Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Tengah 2015 yang digelar di gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Kamis (5/2).

Yulianto menjelaskan, salah satu penyebab mereka tidak mau terbuka adalah masih adanya stigma negatif dari masyarakat. Para penderita HIV/AIDS masih dianggap sebagai pembawa aib. ”Kebanyakan dari mereka masih dalam usia produktif,” imbuh Yulianto yang berjanji akan terus melakukan update data.

Dalam kesempatan tersebut, turut juga dipertontonkan film tentang penderitaan para penyandang HIV/AIDS serta testimoni dari mereka. Tidak hanya menyerang orang dewasa, ternyata juga melanda anak-anak. Dengan keteguhan hati, mereka tetap sabar dan terus berjuang untuk melawan penyakitnya.

Terpisah, Ari Istiyadi, Direktur Lentera Asa, salah satu LSM yang bergerak dalam perjuangan dan perlindungan para pengidap HIV/AIDS (ODHA) dan wanita pekerja seks (WPS) mengungkapkan bahwa dengan meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS berarti meningkat pula kesadaran masyarakat untuk sembuh dari penyakit itu. ”Mereka yang sebelumnya sembunyi-sembunyi kini telah berani muncul dan bersosialisasi dengan masyarakat,” jelasnya.

Ari justru mempertanyakan daerah-daerah yang mengklaim bebas dari HIV/AIDS. Sebab, penyakit tersebut diketahui berbanding lurus dengan pertumbuhan WPS dan maraknya penggunaan narkoba. Menurutnya, baik ODHA maupun WPS adalah korban kebijakan negara di mana tidak ada jaminan untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan juga penghidupan yang layak. ”Apa yang mereka alami bukanlah merupakan pilihan. Tidak seorang pun yang ingin mengidap HIV/AIDS, begitu juga yang memiliki cita-cita menjadi pelacur,” imbuhnya.

Ari berharap pemerintah tidak hanya melakukan monitoring dan evaluasi saja. Akan tetapi lebih berperan aktif dengan cara bekerja sama dengan instansi terkait dalam mengatasi permasalahan ini. Menurutnya, penanganan terhadap ODHA selama 27 tahun di Indonesia tidak ada perubahan apa pun. Seharusnya ada sistem yang benar terkait dengan masalah ini.

”Oleh karena itu, dalam rangka memperingati hari AIDS beberapa waktu lalu kami melakukan aksi mengambil tema ODHA Bahagia. Kami tidak ingin mereka dimanfaatkan siapa pun untuk kepentingan tertentu. Tetapi harus diajak berjuang bersama untuk mandiri dan berguna untuk orang lain,” pungkas pria asal Limbangan Kendal ini. (fai/ric/ce1)