PERTAHANKAN BUDAYA: Komunitas Lopen Semarang, mencoba mengenalkan versi asli Gambang Semarang. (FOTO: ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
PERTAHANKAN BUDAYA: Komunitas Lopen Semarang, mencoba mengenalkan versi asli Gambang Semarang. (FOTO: ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
PERTAHANKAN BUDAYA: Komunitas Lopen Semarang, mencoba mengenalkan versi asli Gambang Semarang. (FOTO: ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kesenian asli kota Semarang yakni Gambang Semarang, seakan terpinggirkan oleh modernisasi yang ada saat ini. Genarasi muda pun hanya mengenali kesenian ini sebatas lagu dan tarian. Padahal menurut sejarah, Gambang Semarang tidak hanya sekadar pertunjukan musik dan tari, tapi juga menampilkan lagu dan lawak.

Komunitas Sejarah Lopen Semarang pun tergerak, dengan menampilkan Kesenian Gambang Semarang versi asli yang muncul pada tahun 1930-an, acara yang digelar di gedung kesenian Sobokartti itu mengundang berbagai elemen masyarakat termasuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Ketua Komunitas Lopen Semarang, Muhammad Yogi Fajri, mengatakan jika Gambang Semarang sempat hilang di tahun 1942 saat penjajahan tentara Jepang. Kemudian di tahun 2000-an, Gambang Semarang kembali muncul tapi dalam versi yang berbeda. ”Gambang Semarang sebenarnya kesenian perpaduan antara Jawa dan Cina yang memadukan lawak, tari, dan menyanyi,” katanya kepada Radar Semarang saat perayaan ulang tahun Komunitas Lopen ke-2, kemarin.

Dalam Gambang Semarang juga terdapat insturmen Cina. Jenis alat musik yang dipakai adalah kendang, bonang, kempul, gong, suling, kecrek, dan gambang. Pengaruh kuat Tionghoa tampak pada penggunaan alat musik gesek konghayan atau tohyan. ”Kita ingin mengenalkan versi asli ke khalayak luas. Apalagi saat ini banyak generasi muda yang tidak mengenalkan kesenian ini,” tandasnya.

Dirinya berharap agar pemerintah dan pelaku seni yang ada di Semarang mau belajar budaya warisan nenek moyang yang hampir punah ini. Saat ini kesenian yang ada, menurut dia bukan lagi versi asli, dan sudah menghilangkan beberapa elemen perpaduan budaya. ”Kepedulian pemerintah dan pelaku seni sangat dibutuhkan. Minimal pelaku seni mau mempelajari versi asli Gambang Semarang, berupa seni tari, perpaduan alat musik Jawa dan Cina, serta seni lawak,” harapnya. (den/zal/ce1)