PENGARAHAN : Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Bayu Purwiyono sedang memberikan pengarahan kepada Babinsa di Yonkav 2/Tank IV Diponegoro Ambarawa, Rabu (28/1) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PENGARAHAN : Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Bayu Purwiyono sedang memberikan pengarahan kepada Babinsa di Yonkav 2/Tank IV Diponegoro Ambarawa, Rabu (28/1) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PENGARAHAN : Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Bayu Purwiyono sedang memberikan pengarahan kepada Babinsa di Yonkav 2/Tank IV Diponegoro Ambarawa, Rabu (28/1) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

AMBARAWA—Kebutuhan industri rumah tangga, pembuat tahu dan tempe selalu meningkat. Seiring meluasnya pangsa pasar tahu dan tempe yang sudah merambah ke seluruh Indonesia, dari yang dulunya hanya dikonsumsi oleh penduduk pulau Jawa. Akibatnya, Jateng mengalami kekurangan stok kedelai hingga 500 ribu ton.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jateng, Suryo Banendro, dalam acara latihan kader pertanian bagi Babinsa dan mahasiswa, Yonkav 2/Tank, Ambarawa, Rabu (28/1) kemarin.

Menurut Suryo, data Dinas Pertanian Provinsi Jateng mencatat hasil pertanian kedelai lokal hanya mencapai angka 129 ribu ton yang tersebar di Rembang dan daerah Pantura. Kebutuhan pasar sekarang sudah mencapai 700 ribu ton. Solusi pemerintah saat ini adalah melakukan impor. Meskipun, kualitas barang lokal lebih baik ketimbang barang impor. “Barang impor sudah disimpan di gudang hampir satu bulan, kemudian baru diperjualbelikan,” tuturnya.

Diakuinya, pemeliharaan kedelai lebih sulit daripada padi dan jagung. Untuk ketela, singkong dan lainnya di Jateng masih aman. Dalam arti barang-barang tersebut masih bisa dipenuhi oleh hasil pertanian lokal. “Kedelai yang harus kita genjot pertumbuhannya lewat bantuan Babinsa dan mahasiswa,” tandasnya.

Suryo menambahkan bahwa tahun 2014 lalu, hasil pertanian padi di Jateng mengalami penurunan. Dari yang sebelumnya 10 juta ton turun menjadi 9 juta ton. Ini akibat jumlah petani di Jateng mengalami penurunan dari sebelumnya 5,7 juta orang turun menjadi 4,2 juta orang. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya bencana banjir di lumbung-lumbung padi di Jateng seperti di daerah Purworejo.

“Dari hasil penelitian di lapangan, sekarang banyak sawah dipenuhi sampah plastik dari sungai yang mengalir ke sawah petani. Ini menjadi salah satu faktor penyebab hasil sawah petani tidak efektif dan mengalami penurunan,” imbuhnya.
Dinas Pertanian Provinsi Jateng, imbuhnya, menargetkan hasil padi tahun 2015 naik 1,5 juta ton. Meskipun untuk konsumsi lokal, hasil padi Jateng surplus. Tapi tetap saja, Jateng harus berkontribusi membantu hasil padi nasional. “Targetnya, 1 hektare sawah bisa menghasilkan 9 juta ton gabah kering,” katanya.

Sementara itu, Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Bayu Purwiyono mengatakan Babinsa harus mampu membantu dan menggerakkan masyarakat untuk memperkuat sektor pertanian. Agar nantinya, ketahanan pangan di Jateng dapat tercapai. Di samping itu, Babinsa juga memantau penyebaran pupuk, agar tidak terjadi penyelewengan.

“Kita jangan kalah dengan Vietnam. Baru menjadi pengimpor padi ASEAN sudah kemaki (sombong, red). Makanya, kita harus bersinergi dengan masyarakat, agar bisa bahu-membahu membangun masyarakat swasembada pangan,” pungkasnya. (mg14/ida)