MAGELANG – Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito menyayangkan kebijakan pemerintah pusat terkait moratorium pegawai negeri sipil (PNS). Walaupun ada pengecualian kebijakan itu terhadap tenaga medis dan tenaga pendidikan, kenyataan di lapangan pengangkatan guru masih dinilai kurang.

“Saya menyayangkan kebijakan itu. Mestinya pemerintah pusat melihat keadaan di daerah itu bagaimana. Kemarin pengangkatan guru hanya sekitar 35-an saja, itu sedikit sekali,” kata Sigit kepada Radar Kedu.

Padahal menurut Sigit, jika dihitung secara rasional, di Kota Magelang masih banyak kekurangan tenaga pendidik maupun kependidikan. Padahal untuk bisa melayani siswa dengan baik, maka perbandingan guru dengan siswa harus mencukupi.

“Mungkin pemerintah pusat hanya berpikir saat ini saja. Tapi tidak berpikir jangka waktu lima tahun misalnya, ada pendidik-pendidik yang memasuki masa pensiun dan ada yang harus purna. Seharusnya dipersiapkan penggantinya,” sesalnya.

Sebagai wali kota yang kerap inspeksi mendadak di lembaga pendidikan dari jenjang SD, SMP, SMK dan SMA, Sigit kerap mendengarkan keluhan dan harapan guru-guru wiyata bhakti. Mereka sangat ingin diperhatikan kesejahteraannya. Terlebih sudah menempuh pendidikan tinggi dan berjuang cukup lama, besar harapan bisa meningkat kesejahteraannya dengan diangkat menjadi PNS.

“Saya itu sedih kalau ada yang mengeluh kepada saya seperti itu. Kasihan sekali. Tapi kita (Pemkot, Red) akan berusaha membantu semampu kita, intinya kita pikirkanlah,” ungkapnya.

Mantan Kepala DPU Kota Magelang itu juga mengaku hingga akhir jabatannya, tak mampu menyelesaikan kunjungan ke sekolah-sekolah yang jumlahnya mencapai ratusan itu. Menurutnya yang menjadi kendala adalah waktu. Sebagai pemimpin Kota Sejuta Bunga, Sigit memiliki banyak kesibukan yang tak bisa ditinggalkan untuk mengurusi banyak hal.
“Tidak selesai. Jumlahnya ada ratusan, tapi sudah separuh lebih yang saya kunjungi,” akunya.

Kendati demikian, Sigit yang selalu didampingi Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) dan beberapa SKPD terkait lainnya, mengaku lega. Mengapa demikian? “Dari sejumlah sekolah yang sudah saya kunjungi saya bisa mengevaluasi, bangunannya ada beberapa yang harus diperbaiki. Sidak ini tidak pernah saya beri tahu, jadi kalau saya amati untuk guru-gurunya sudah baik, banyak yang disiplin. Hanya kendalanya kurang tenga di sekolah. Yang paling utama, kita dengar langsung keluhan mereka saat pengarahan usai sidak,” paparnya.

Sementara itu, Noviana Ita, salah satu guru olahraga yang berwiyata bhakti di SD Negeri Jurangombo I Kota Magelang, mengakui tak hanya kekurangan guru, namun tenaga administrasi juga mengalami kekosongan di sekolahnya. sehingga kadang guru harus merangkap atau ikut membantu di bagian keuangan.

“Kesejahteraan guru tidak tetap masih kurang. Kebetulan di sini sudah cukup baik, tapi teman-teman yang lain masih banyak yang kurang di perhatiakan, kasihanlah,” keluhnya. (put/lis)