MASIH ASING: Sebagian anggota Komunitas Saigon.com Semarang menunjukkan Soa Layar koleksinya. (DOK. PRIBADI)
MASIH ASING: Sebagian anggota Komunitas Saigon.com Semarang menunjukkan Soa Layar koleksinya. (DOK. PRIBADI)
MASIH ASING: Sebagian anggota Komunitas Saigon.com Semarang menunjukkan Soa Layar koleksinya. (DOK. PRIBADI)

Komunitas Saigon.com Semarang mencoba mengenalkan kadal asli Indonesia. Namanya Soa Layar (Hydrosaurus) atau dalam bahasa Inggris disebut Sailfin Dragon. Reptil sejenis iguana ini masih belum begitu dikenal masyarakat.

MIFTAHUL A’LA, Semarang

SEKILAS Soa Layar mirip iguana. Secara fisik, sangat mirip dengan reptil jenis kadal yang banyak ditemukan di daerah tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan tersebut. Baik bentuk wujudnya maupun cara berjalannya. Namun Soa Layar ternyata reptil asli Indonesia.

Reptil dengan wajah cukup menyeramkan ini banyak dijumpai di sejumlah pulau di Indonesia. Untuk memperkenalkan jenis reptil ini ke masyarakat, sekumpulan pecinta Soa Layar di Kota Semarang membentuk komunitas. Namanya Saigon.com Semarang. Komunitas ini didedikasikan bagi mereka yang sama-sama penyuka Soa Layar.

Ketua Saigon.com, Jack, mengatakan, komunitas yang dipimpinnya sudah dua tahun eksis, tepatnya berdiri pada 2012 silam. ”Kata Saigon ini diambil dari nama salah satu hewan peliharaan kami, yakni Sailfin Dragon,” kata Jack kepada Radar Semarang.

Dijelaskan, Soa Layar sejenis kadal asli Indonesia. Reptil ini memiliki nama latin Hydrosaurus. Selain di Indonesia, Soa Layar hanya ditemukan di Philipina dan Papua Nugini.

Dikatakan, Hydrosaurus memiliki tiga jenis, yaitu Hydrosaurus Amboinensis, Hydrosaurus Pustulatus, dan Hydrosaurus Weberi. Soa Layar jenis Hydrosaurus Pustulatus, jelas dia, hanya terdapat di negara Philipina saja. Di sana, reptil tersebut dilindungi oleh negara.

”Memang ada beberapa orang yang memiliki kadal satu ini, tapi sangat jarang. Kadal ini jenisnya sudah hampir punah,” ujarnya.

Ia mengakui, awalnya komunitas ini hanya diminati dua orang. Meski begitu, ia tetap berupaya mengenalkan reptil jenis ini kepada publik. Dari situlah, anggota bertambah dengan bergabungnya sesama pencinta Soa Layar. ”Lucunya, hampir semua orang apalagi pencinta binatang tahunya ya iguana. Padahal ini reptil asli Indonesia,” katanya.

Selama dua tahun belakangan, komunitas ini intens memperkenalkan dan mengampanyekan Soa Layar. Ia mengakui jika antara iguana dan Soa Layar secara fisik memiliki banyak kemiripan. Yang membedakan, Soa Layar memiliki sirip ciri lain di bagian ekornya. Yakni, ada sirip yang tumbuh tinggi menyerupai layar sebuah perahu.

”Nah ini ciri yang tidak dimiliki oleh iguana. Masyarakat harus bisa membedakan, ini merupakan milik bangsa,” ujarnya.
Masih belum tahunya masyarakat tentang keberadaan Soa Layar cukup beralasan. Sebab, selama ini masyarakat lebih mengenal iguana dibandingkan Soa Layar. Selain itu, perhatian pemerintah masih belum begitu maksimal. ”Jika Anda memiliki Soa Layar pasti akan tahu, betapa eksotisnya reptil yang satu ini,” kata pencinta Soa Layar, Hanin.

Selain eksotis, perawatan Soa Layar lebih mudah dibandingkan dengan iguana. Cukup memberikan makanan buah, sayur, serta binatang kecil lainnya. Soa Layar juga lebih jinak dan mudah untuk dipelihara. ”Saya bangga bisa mengenalkan reptil ini kepada orang lain. Karena banyak orang yang belum tahu,” ujarnya. (*/aro/ce1)