SEMARANG – Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi serta cabai merah memicu inflasi bulan November. Yaitu sebesar 1,36 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan Oktober yang sebesar 0,52 persen.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Jam Jam Zamachsyari mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan November secara umum mengalami kenaikan. Salah satu yang berdampak pada beberapa sektor lain adalah kenaikan BBM. “Kenaikan harga BBM subsidi beberapa waktu lalu memicu inflasi di bulan ini,” ujarnya, kemarin (1/12).

Selain kenaikan BBM, cabai merah, cabai rawit, angkutan dalam kota serta beras juga disebut sebagai penyumbang terbesar terjadinya inflasi. Kenaikan harga beberapa komoditas tersebut menurutnya juga berkaitan dengan kenaikan BBM. “Tarif angkutan dalam kota ini misalnya. Meskipun saat itu belum ada kepastian dari Pemerintah tetapi sudah banyak pengusaha angkutan umum yang menaikkan tarif untuk penumpang,” tambahnya.

Sedangkan tingginya harga cabai sudah terjadi sejak dua bulan lalu. Dimana pasokan cabai dari sentra penghasil di Jawa Tengah minim. Sehingga pedagang harus mengambil pasokan dari beberapa daerah di luar Jawa Tengah.

Inflasi ini, lanjutnya, diprediksi masih akan terus meningkat pada bulan Desember. Hal ini berkaca dari kondisi sebelumnya paska kenaikan BBM. Dimana inflasi tertinggi terjadi pada bulan kedua setelah kenaikan BBM.

Secara keseluruhan, dari enam kota survei biaya hidup di Jateng, Kota Cilacap merupakan daerah dengan angka inflasi tertinggi yaitu 1,52 persen dengan IHK 119,07, selanjutnya Kota Surakarta 1,47 persen dengan IHK 114,23, Kota Purwokerto dengan inflasi 1,38 persen dengan IHK 115,06, Kota Semarang 1,35 persen dengan IHK 115,95, Kota Kudus 1,31 persen dengan IHK 121,17, dan inflasi terendah terjadi di Kota Tegal sebesar 1,05 persen dengan IHK 112,86. (dna/smu)