TAK LONGSOR LAGI : Bangunan talud Desa Petung yang dibangun menggunakan dana Banprov Jateng 2014. Pengerjaan talud dilakukan secara bergotong-royong oleh masyarakat. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

TAK LONGSOR LAGI : Bangunan talud Desa Petung yang dibangun menggunakan dana Banprov Jateng 2014. Pengerjaan talud dilakukan secara bergotong-royong oleh masyarakat. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL—Dana Bantuan Provinsi (Banprov) Jateng 2014 yang mengalir ke desa-desa di seluruh kabupaten Kendal telah memberikan efek positif untuk pembangunan. Sebab setiap desa diberikan keleluasaan untuk menggunakan anggaran sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang mendesak.

Seperti yang terjadi di Desa Petung, Kecamatan Pageruyung yang digelontor dana Banprov sebesar Rp 40 juta. Dana tersebut telah membantu warga dalam pemenuhan kebutuhan infrastruktur jalan layak, tepatnya digunakan untuk pembangunan talud jalan.

Kepala Desa Petung, Caswati menjelaskan jika kondisi geografis Kecamatan Pageruyung berada di dataran tinggi dan berbukit. Tanah yang berbukit Desa Petung juga kerap mengalami longsor sehingga membahayakan warga. Termasuk membuat kondisi jalan di desa yang berpenduduk 1.030 jiwa itu juga kerap longsor. “Apalagi musim hujan seperti sekarang ini, sudah dapat dipastikan jalan akan longsor tergerus derasnya air hujan,” ujarnya Jumat (28/11).

Bahkan badan jalan Desa Petung yang selebar 5 meter, karena tergerus air hingga longsor 3 meter. Sehingga badan jalan yang tersisa hanya 2 meter. Itu [un kondisinya becek dan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua saja. “Kondisi tersebut membuat warga kesulitan beraktivitas. Sehingga ekonomi warga, terutama pertanian ataupun usaha warga lainnya di Desa ini susah berkembang,” tuturnya.

Dikatakannya, 90 persen warga Petung berpenghidupan dari bertani. Kondisi jalan longsor membuat warga kesulitan untuk memanen hasil pertanian lantaran tidak bisa diangkut menggunakan kendaraan. Hasil pertanian hanya dapat diangkut dengan cara dipikul sehingga memakan waktu lama dan biaya yang banyak.

Warga sendiri untuk memperbaiki jalan mengaku keberatan. Sebab untuk membangun butuh dana yang tidak sedikit jumlahnya. Sementara penghasilan warga dari pertanian hanya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.
Makanya adanya dana Banprov untuk pembangunan infrastruktur menjadi angin surga bagi warga Petung. Ia kemudian mengajukan dana pembanguan talud kepada Kepala Seksi Pembangunan Kecamatan Pageruyung agar digelontor dana Banprov Jateng 2014.

Hasilnya, Desa Petung mendapatkan dana bantuan Rp 40 juta. Dana tersebut kemudian digunakan untuk pembangunan talud di dua titik. Yakni Dusun Krajan dan Tempel. Masing-masing mendapatkan Rp 20 juta. Meski jumlahnya relatif kecil, namun warga tak patah semangat. Dana tersebut benar-benar dimaksimalkan untuk membangun talud jalan desa. “Urusan sumbangan dana memang warga tidak mampu, tapi kalau urusan sumbangan tenaga dan apa yang mereka miliki warga sangat antusias. Terbukti, warga bergotong royong menyumbang tenaga, bambu, kayu untuk membangun talud,” jelasnya.

Kasi Pembangunan Desa Kecamatan Pageruyung, Muhyidin mengatakan dari kegotongroyongan itulah warga bisa menghemat biaya. Sehingga dana Rp 20 juta untuk pembangunan talud bisa tercapai sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB). “Seperti tukang bangunan, kernet bangunan itu semua dikerjakan warga secara sukarela. Sehingga tidak perlu memberikan upah, dan uang makan. Justru warga bergiliran menjamu para warga yang bergotong royong secara bergantian,” katanya.

Kebutuhan bambu, kayu dan sebagainya warga juga tidak perlu membeli. Cukup ambil dari kebun masing-masing. “Jadi warga hanya perlu membeli pasir, batu dan besi saja. Bahkan peralatan bangunan seperti pacul, cetok dan ember, warga sudah membawa sendiri dari rumah saat akan membangun talud,” paparnya.

Bahkan rencana anggaran untuk membangun talud sepanjang 52 meter, justrunya hasilnya bisa lebih menjadi 55 meter. Tinggi talud sesuai rencana hanya 1,5 meter menjadi 3 meter. “Talud selesai dibangun, kini warga mengumpulkan dana secara swadaya untuk membeton jalan. Jadi kini selain tidak takut longsor, akses warga juga mudah karena jalan sudah keras dan tidak lagi becek,” tambahnya.

Salah seorang warga, Laspodo Widianto, mengaku sangat senang dengan dana Banprov. Sebab selain mempercepat pembangunan infrastruktur desa juga memerat rasa gotong royang antar warga. “Harapannya dana banprov ini bisa tahun depan bisa dikucurkan lagi,” harapnya.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (Bapermaspemdes) Kendal, Subaidi menuturkan di seluruh Kendal ada 166 desa yang mendapat Dana Banprov Jateng. Rinciannya 64 desa mendapatkan Rp 100 juta, 55 desa Rp 60 juta, dan 147 desa mendapat Rp 40 juta. “Dana tersebut dicairkan melalui kas desa, didasarkan atas usulan masing-masing desa melalui musyawarah Lembaga Pembangunan Masyarakat Desa. Yang melibatkan, RT, RW, kepala dusun, kepala desa, Kasi Pembangunan dan tokoh masyarakat dan pemuka agama,” tandasnya.

Pelaksanaannya dilakukan oleh desa dan diawasi sendiri oleh masyarakat. Sehingga berapa pun besarnya dana minim sekali penyelewengan. “Prinsipnya memang dilaksakanan secara bergotong royong. Karena dana tersebut tidak boleh untuk membayar upah tenaga kerja maupun sewa alat, jadi warga dituntut untuk bekerjasama,” tandasnya. (bud/ric)